Feddy Wanditya Setiawan
Feddy Wanditya Setiawan Dosen

Science advances not by blind obedience to old answers, but by the courage to question

Selanjutnya

Tutup

Video

'48 Books for the Future'

6 Januari 2026   05:08 Diperbarui: 8 Januari 2026   12:00 148 3 0

[chorus]
Forty-eight books across the skies
Science art and social ties
Every lesson deeply wise
Guiding where our future lies
We won't trade our soul's disguise
We'll keep the human flame alive
Forty-eight books across the skies
Teaching us how to dream and rise

[break]

[chorus]
Forty-eight books not just in ink
Promises to those who think
Vows to question care and link
Hearts that build and won't just blink
We won't be users on the brink
We'll stand as builders strong and true
Forty-eight books in every view
And the future starts with you

[outro]

------

Konsep musik naratif "48 Books for the Future" dibangun sebagai perjalanan emosional dari kesadaran menuju komitmen. Lagu dibuka dengan suasana hening dan reflektif melalui piano dan lapisan ambient lembut, menggambarkan ruang kelas di pagi hari-tempat lahirnya rasa ingin tahu dan pertanyaan-pertanyaan besar. Pada bagian verse, musik bergerak intim dan tenang, seolah mengikuti alur pikiran manusia yang sedang belajar memahami dunia, bukan sekadar menerima informasi. Ketika memasuki pre-chorus, harmoni dan ritme perlahan meningkat, menciptakan ketegangan intelektual yang merepresentasikan momen penting dalam pendidikan: saat pengetahuan bertemu dengan pilihan moral.

Chorus hadir sebagai pernyataan nilai yang kuat dan optimistis. Aransemen berkembang menjadi lebih luas dan sinematik, memadukan elemen modern dan futuristik untuk menegaskan bahwa masa depan tidak perlu ditakuti, tetapi dipahami dan dibentuk. Pada verse kedua, unsur elektronik semakin terasa sebagai simbol kehadiran AI dan teknologi, namun tetap seimbang dengan instrumen organik untuk menegaskan bahwa manusia tetap berada di pusat kendali. Bagian break menurunkan kembali intensitas musik, memberi ruang hening untuk refleksi-sebuah jeda sadar sebelum mengambil arah.

Lagu ditutup dengan final chorus yang emosional dan kolektif, menyerupai sumpah generasi yang memilih untuk berpikir kritis, beretika, dan bertanggung jawab. Outro kembali sederhana, meninggalkan nada terbuka yang menyiratkan bahwa cerita belum selesai. Dengan demikian, musik tidak hanya mengiringi lirik, tetapi menjadi narasi hidup tentang pendidikan sebagai kompas moral manusia di era kecerdasan buatan (AI).

Bukan tentang teknologi yang makin pintar,
tetapi manusia yang tetap bijak. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2