Science advances not by blind obedience to old answers, but by the courage to question
![Alamat yang Tak Kembali (Rainlit Longing). Illustration: [Feddy WS] (AI-assisted)](https://assets.kompasiana.com/items/album/2026/02/16/feb-16-2026-07-38-02-pm-699316b134777c5fb31ffaa2.png?t=o&v=700)
[Recommended Headphones or Car Audio]
Alamat yang Tak Kembali
[intro]
[verse]
Hujan turun tanpa aba-aba
Rinduku padamu tak terkira
Tak keras tapi lama
Mengisi dada yang beku
[verse]
Masih kuingat caramu pergi
Tanpa marah tanpa janji
Kau tinggalkan aku di sini
Jarak yang tak terjangkau kaki
[pre-chorus]
Ku pura-pura baik saja
Hatiku sibuk bertanya
[chorus]
Rindu ini seperti surat
Kukirim lagi dan lagi
Tanpa alamat yang tepat
Selalu kembali ke hati
Aku menunggumu di waktu
Yang bahkan lupa akan rindu
[verse]
Kopi dingin di meja pagi
Harapanku pun redup sendiri
Semua terasa setengah
Sejak kau pergi tanpa salah
[pre-chorus]
Namamu kusebut lirih
Dunia tak perlu ikut sakit
[chorus]
Rindu ini seperti surat
Kukirim lagi dan lagi
Tanpa alamat yang tepat
Selalu kembali ke hati
[bridge]
Jika boleh ku memilih
Tak ingin sekuat ini
Agar rinduku bisa mati
Dan tak memanggilmu nanti
[chorus]
Rindu tak kenal logika
Hidup dari kenangan lama
Meski kau milik cerita lain
Namamu tetap rumahku sendiri
[outro]
------
Core Idea
“Rindu yang Terus Dikirim, Tapi Tak Pernah Sampai.”
Alamat yang Tak Kembali adalah lagu tentang rindu sepihak yang telah kehilangan tujuannya, namun tidak pernah berhenti bergerak. Rindu digambarkan bukan sebagai ledakan emosi, melainkan sebuah ritual sunyi: mengingat dalam diam, menunggu tanpa kepastian, dan perlahan menerima bahwa yang dituju tak lagi bisa pulang. Rindu dalam lagu ini bukan keinginan untuk memiliki kembali, melainkan kebutuhan paling manusiawi—diakui keberadaannya. Karena tidak semua rindu ingin pulang; sebagian hanya ingin diakui bahwa ia pernah ada.