Bicara soal sinema Korea Selatan, genre thriller-noir selalu punya tempat spesial. Mereka tidak pernah ragu untuk melangkah ke wilayah yang teramat gelap, mengeksplorasi moralitas manusia hingga ke titik nadir. Di antara deretan film legendaris seperti Oldboy atau Memories of Murder, ada satu permata hitam garapan sutradara Kim Jee-woon yang rilis pada tahun 2010 dan tetap menjadi standar emas film balas dendam hingga hari ini: I Saw the Devil.
Dibintangi oleh dua aktor watak raksasa, Lee Byung-hun dan Choi Min-sik, film ini bukan sekadar kisah kejar-kejaran antara polisi dan pembunuh berantai. I Saw the Devil adalah sebuah dekonstruksi radikal tentang apa itu balas dendam.

Sinopsis Singkat: Permainan Kucing dan Tikus yang Brutal
Cerita berawal dari tragedi mengerikan. Jang Joo-yeon, putri dari seorang pensiun komandan polisi sekaligus tunangan dari agen rahasia NIS bernama Kim Soo-hyun (Lee Byung-hun), diculik dan dimutilasi secara keji oleh seorang psikopat kambuhan bernama Jang Kyung-chul (Choi Min-sik).
Hancur oleh rasa duka, Soo-hyun bersumpah akan membalas dendam dengan cara yang paling menyiksa. Menggunakan keahlian dan fasilitasnya sebagai agen rahasia, Soo-hyun berhasil melacak Kyung-chul dengan cepat. Namun, alih-alih membunuhnya atau menyerahkannya ke polisi, Soo-hyun memilih opsi ketiga: menghajar Kyung-chul hingga sekarat, memasang pelacak GPS berbentuk kapsul di tubuhnya, lalu melepaskannya kembali.
Soo-hyun ingin memburu Kyung-chul berulang kali. Setiap kali Kyung-chul merasa aman atau berniat menyakiti korban baru, Soo-hyun akan muncul dari kegelapan untuk memberikan rasa sakit fisik yang lebih hebat. Sebuah permainan "kucing dan tikus" yang sadis pun dimulai.
Dilema Moral: Ketika Batas Keadilan Melenyap
Daya tarik utama I Saw the Devil terletak pada bagaimana film ini menantang penontonnya melalui kutipan terkenal filsuf Friedrich Nietzsche:
Siapa pun yang melawan monster harus memastikan bahwa dalam prosesnya dia tidak menjadi monster.
Pada paruh pertama film, penonton dengan mudah berpihak pada Soo-hyun. Kita merasakan amarahnya dan menganggap tindakan menyiksa Kyung-chul adalah bentuk "keadilan" yang setimpal. Namun, perlahan tapi pasti, sutradara Kim Jee-woon membalikkan psikologi kita.
Soo-hyun menjadi begitu terobsesi dengan permainan sasisnya hingga dia mengabaikan risiko bahwa Kyung-chul—seorang psikopat murni tanpa rasa bersalah—bisa melakukan serangan balik kepada orang-orang di sekitar Soo-hyun. Di sinilah letak tragisnya: demi memuaskan ego balas dendamnya, Soo-hyun justru membuka jalan bagi kehancuran yang lebih besar.