Isson Khairul
Isson Khairul Jurnalis

Saya memulai hidup ini dengan menulis puisi dan cerita pendek, kemudian jadi wartawan, jadi pengelola media massa, jadi creative writer untuk biro iklan, jadi konsultan media massa, dan jadi pengelola data center untuk riset berbasis media massa. Saya akan terus bekerja dan berkarya dengan sesungguh hati, sampai helaan nafas terakhir. Karena menurut saya, dengan bekerja, harga diri saya terjaga, saya bisa berbagi dengan orang lain, dan semua itu membuat hidup ini jadi terasa lebih berarti.

Selanjutnya

Tutup

Video Artikel Utama

Matahari Papua, Lakon Terbaru Teater Koma

2 Juni 2024   23:25 Diperbarui: 3 Juni 2024   16:31 897 16 6


Teater Koma kembali mentas. Lakonnya keren, Matahari Papua. Tiga hari berturut-turut, Jumat-Minggu, 7-9 Juni 2024, Matahari Papua akan digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. "Sebagai manusia, apakah kita sudah merdeka?" Itu pertanyaan besar Ratna Riantiarno tentang Matahari Papua tersebut.

Kemerdekaan Sebagai Manusia

Matahari Papua, Lakon Baru Teater Koma. Foto: Isson Khairul
Matahari Papua, Lakon Baru Teater Koma. Foto: Isson Khairul

Teater Koma sesungguhnya adalah matahari. Ia menerangi, sekaligus mencerahkan. Apa sebenarnya yang hendak disampaikan Teater Koma  dalam Matahari Papua? "Ini tentang kemerdekaan. Baik secara universal maupun individual. Sebagai bangsa dan negara, kita tentu saja sudah merdeka. Tapi, sebagai manusia, apakah kita sudah merdeka?" tanya Ratna Riantiarno.

Pertanyaan Ratna Riantiarno tersebut, adalah pertanyaan Nano Riantiarno, penulis naskah Matahari Papua. Kita tahu, Nano Riantiarno -lengkapnya Norbertus Riantiarno- adalah aktor sekaligus pendiri Teater Koma. Ia meninggal dunia pada Jumat, 20 Januari 2023, pukul 06:38 WIB di Jakarta.

Dan, naskah Matahari Papua adalah naskah terakhir yang ditulis Nano Riantiarno, sebelum ia wafat. Naskah ini pertama kali ditulis tahun 2014, sebagai naskah pendek untuk pertunjukan bertajuk Cahaya dari Papua. Naskah itu dipentaskan 2 kali di Auditorium Galeri Indonesia Kaya Jakarta. Pertama, pada Sabtu, 27 Desember 2014 dan kedua, pada Sabtu, 12 Desember 2015.

Pertunjukan berdurasi 50 menit tersebut, secara langsung disutradarai oleh Nano Riantiarno. Cahaya dari Papua berkisah tentang teror seekor naga jahat terhadap Tanah Papua. Banyak yang menjadi korban. Seluruh makanan, misalnya, dimonopoli oleh sang naga. Tak ada yang berani melawan.

Naga? Ada kah naga di Tanah Papua? Ratna Riantiarno meyakinkan, "Ada. Ada naga di Tanah Papua," ujar Ratna, dalam konferensi pers Matahari Papua di Auditorium Galeri Indonesia Kaya Jakarta, pada Sabtu, 29 Mei 2024 lalu. Nano Riantiarno, menurut penuturan Rangga Riantiarno yang menjadi sutradara Matahari Papua, terinspirasi dari kisah seorang pemuda Tanah Papua bernama Biwar, yang membalas dendam kepada Naga.

Nah, naskah Matahari Papua tersebut merupakan pengembangan dari naskah Cahaya dari Papua. Pengembangan naskah tersebut sudah dimulai Nano Riantiarno, sejak tahun 2020. Jika pada awalnya durasinya 50 menit, maka Matahari Papua berdurasi 2 jam 15 menit, tanpa interval.

Naskah Matahari Papua pada tahun 2022, diikutkan oleh Nano Riantiarno dalam Rawayan Award, suatu Sayembara Penulisan Naskah yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta. Naskah itu dikirimkan Nano Riantiarno secara anonim. Maksudnya, di naskah tersebut, tidak dicantumkan nama Nano Riantiarno sebagai penulisnya. Ternyata, naskah Matahari Papua terpilih sebagai salah satu pemenang di Rawayan Award itu.

Kolaborasi Tiga Riantiarno

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2