Saya memulai hidup ini dengan menulis puisi dan cerita pendek, kemudian jadi wartawan, jadi pengelola media massa, jadi creative writer untuk biro iklan, jadi konsultan media massa, dan jadi pengelola data center untuk riset berbasis media massa. Saya akan terus bekerja dan berkarya dengan sesungguh hati, sampai helaan nafas terakhir. Karena menurut saya, dengan bekerja, harga diri saya terjaga, saya bisa berbagi dengan orang lain, dan semua itu membuat hidup ini jadi terasa lebih berarti.
Sepak bola bukan hanya tentang menang dan kalah. Apalagi di Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2026, yang berbasis kompetisi pembinaan. Proses pembinaan di internal 16 klub peserta, itulah yang menjadi perhatian utama. Kesungguhan tiap klub dalam pembinaan, akan tercermin pada tiap laga yang diikutinya.

Dengan demikian, kesungguhan pembinaan tersebut, tidak bisa hanya diukur dalam 1 kali laga. Karena berbasis pembinaan itulah, makanya Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2026 digelar dalam durasi yang panjang, sejak Juni hingga November 2026 mendatang.
Hingga Minggu, 2 Agustus 2026, Liga Jakarta U-17 sudah memasuki pekan ke-5, dengan 28 kali laga. Laga klub Pemuda Jaya melawan klub Batavia FC ini, merupakan laga ke-27. Dan, baru di laga pekan ke-5 inilah, Pemuda Jaya berhasil memetik kemenangan 1-0 atas Batavia.
Tak tanggung-tanggung, Pemuda Jaya sukses mengalahkan Batavia, yang selama 4 pekan berturut-turut, selalu menang. Bagi Pemuda Jaya, laga ini merupakan kemenangan pertama dan bagi Batavia, laga ini menjadi kekalahan pertama.
Meski kalah, posisi Batavia belum tergoyahkan, tetap bercokol di puncak klasemen Grup Putih Liga Jakarta U-17, selama 5 pekan berturut-turut. Sementara, Pemuda Jaya naik satu peringkat, dari ranking 7 ke ranking 6. Detailnya, bisa kita cermati di klasemen sementara ini.
Yang menakjubkan, gol satu-satunya itu, dicetak oleh Irvan Abdul Karim, pemain cadangan Pemuda Jaya di menit ke-69. Boleh jadi, pemain Batavia menilai, Irvan Abdul Karim bukan sosok yang perlu diperhitungkan, hingga ia lolos dari pengawalan, lalu menyarangkan si kulit bundar.
Pertanyaannya, mengapa Batavia yang sudah menang 4 pekan berturut-turut, tapi bisa kalah oleh Pemuda Jaya, yang secara ranking, jauh di bawahnya? Mengapa Batavia seperti mati kutu, hingga tak mampu mencetak 1 gol pun?
Dalam konteks kompetisi pembinaan, yang dibina bukan hanya skill para pemain. Tapi, juga skill pelatih dalam merumuskan taktik strategi untuk dieksekusi pemain di lapangan. Kemelut di mulut gawang Pemuda Jaya, beberapa kali terjadi. Tapi, barisan pertahanan belakang Pemuda Jaya, tak kunjung berhasil dijebol.
Batavia mencoba mengecoh, dengan melakukan terobosan dari samping gawang, namun Qawwam Javier yang menjaga gawang Pemuda Jaya, sangat jeli untuk diperdaya. Konsentrasi Javier, sangat mengesankan. Para pemain belakang juga sadar posisi, hingga mereka tak sampai menghalangi pandangan Javier dalam mengantisipasi gerakan bola.
Secara keseluruhan, keberhasilan Pemuda Jaya mengalahkan Batavia, adalah pelajaran berharga untuk semua. Baik untuk klub-klub yang berada di Grup Putih, maupun untuk klub-klub di Grup Merah. Pelajaran pertama, tentulah ketika Pemuda Jaya menerapkan taktik strategi yang tepat.
Sejak awal, mereka sadar, yang mereka hadapi adalah Batavia, klub yang belum pernah terkalahkan. Maka, memperkuat barisan pertahanan belakang adalah satu keharusan. Pelajaran kedua, Batavia juga sadar sepenuhnya, bahwa lawan mereka adalah klub papan bawah.
Mereka sejak awal menggempur gawang Pemuda Jaya, habis-habisan. Seluruh energi digelontorkan untuk menghabisi lawan. Tapi, tak siap dengan taktik strategi, ketika Pemuda Jaya menerapkan pertahanan berlapis.
Jakarta, 5 Agustus 2026