Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Suara alarm hape disambut kumandang azan samar-samar membangunkan kami. Hawa dingin menyergap, tapi kewajiban tak boleh dilewatkan. Sepertinya tidak ada Musala di dekat sini.
Akhirnya kami ke toilet dan mengambil air wudhu di kran depan depot bakso. Tapi tempat salat agak rumit dan susah didapat.
" Kita naik sekarang saja, Mas. Nanti pasti ada Musala, kita berhenti salat dulu.
"Ya sudah, Ayuk berangkat. Biar nggak kesiangan. Hujan juga sudah reda.
"Bismillahi tawakkaltu 'alallah, laa haula wa laa quwwata illa billah". Pelan-pelan kami berangkat menembus pagi yang berkabut. Tapi Aku sempat merinding saat jalan yang kami tempuh bukan pemukiman. Gelap, berkabut, berkelok dengan tanjakan dan turunan yang konsisten membuat Aku merasa membuat keputusan yang salah.

Bahkan di tikungan kami sempat salah arah, padahal jalan agak sempit dengan tanjakan dan turunan. Jalan susah diprediksi, entah mau naik, turun, belok kanan atau belok kiri.
Beruntung ada sebuah rumah dengan halaman luas yang bisa dimanfaatkan untuk putar balik.
Akhirnya perjalanan kami lanjutkan dengan rasa cemas dan waspada. Sempat melewati perkampungan, tapi tak kami temukan Musala. Bahkan kembali melewati jalan yang kanan kiri pepohonan.
Aku sering menahan nafas, dan kakiku ikut reflek menekan saat tanjakan atau turunan. Akhirnya melewati perkampungan, dengan lampu penerangan. Aku melihat orang bersarung dan membawa sajadah baru masuk rumah.