Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

2. Meningkatkan Partisipasi Warga
Jujur saja, pertemuan RT rutin seringkali dihindari karena dianggap membosankan. Dengan embel-embel refreshing, antusiasme warga (terutama anak muda dan ibu-ibu) biasanya akan meningkat drastis. Dengan begitu, yang hadir bisa lebih banyak, dan pengambilan keputusan lebih representatif.
3. "Healing" Kolektif dari Penatnya Rutinitas
Rutinitas pekerjaan dan hiruk-pikuk lingkungan pemukiman bisa memicu stres. Membawa warga ke tempat hijau atau udara segar memberikan ruang napas bersama.
Hasilnya, warga pulang dengan kondisi mental yang lebih segar, yang secara tidak langsung mengurangi potensi konflik kecil antar tetangga di kemudian hari. Dengan begitu tidak ada lagi permasalahan tetangga yang toxic karena stres kurang healing.

4. Memperkuat Sense of Belonging
Kegiatan di luar wilayah menciptakan kenangan bersama (shared memories). Cerita lucu saat di perjalanan atau momen makan bakso bersama akan menjadi topik obrolan yang mempererat hubungan selama berbulan-bulan ke depan.
Hasilnya tumbuhnya rasa memiliki terhadap lingkungan RT karena merasa memiliki "keluarga kedua" di luar rumah.


Awalnya mamah-mamah berkumpul di pendopo yang luas. Tapi sayang nya kebersihan nya kurang terjaga, sedang mencari sapu ijuk untuk membersihkan lantai yang kotor tidak ada, sehingga akhirnya semua berpindah ke gazebo.
Tidak terlalu luas, tapi lumayan, tempatnya cukup bersih dan layak digunakan untuk mengadakan pertemuan, dan pengocokan arisan.
