Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

Biasanya, setiap berkumpul lebaran, kami memang memilih Pantai Dewa Ruci sebagai destinasi andalan. Jarak nya tidak terlalu jauh dari rumah, hanya sekitar 30-45 menit perjalanan dengan mobil pribadi.
Kami lebih suka berangkat pagi sesudah subuh, karena jalanan belum terlalu ramai, dan udara masih segar. Bisa menikmati pemandangan sekitar karena kami potong kompas melewati sawah-sawah yang terbentang sepanjang perjalanan.
Tak lama kami sudah memasuki area pantai Dewa Ruci. Meski masih pagi, portal sudah ada penjaga nya, kami segera membayar HTM 5 ribu/orang dan biaya parkir. Saat masuk lokasi, kami bebas mencari lokasi parkir tanpa ada tukang parkir yang mengatur.

Nama Pantai Dewa Ruci sendiri diambil dari kisah Wayang yang menceritakan perjalanan Bima, salah satu satria Pandawa mencari air Suci Perwita sari atas perintah gurunya, Pandita Durna.
Durna, di bawah pengaruh Kurawa, menyuruh Bima mencari Tirta Prawitasari ke tempat yang berbahaya, yang sesungguhnya bertujuan untuk menyingkirkan nya.
Saat masuk ke dalam laut, Bima berhasil mengalahkan naga raksasa yang berusaha menghalangi keinginannya. Adegan ini yang biasanya menjadi ikon kisah Dewa Ruci.

Bima bertemu dengan Dewa Ruci, Dewa kerdil yang sebenarnya adalah pengejawantahan dirinya sendiri.
Di sini Bima disuruh masuk telinga kirinya, dan di dalamnya, Bima melihat keindahan dunia (cahaya empat warna: hitam, merah, kuning, putih) dan menemukan hakikat kehidupan, yaitu bahwa Tuhan dan kebenaran sejati ada di dalam diri manusia sendiri.