Freelancer, suka traveling, dan kuliner. Nominee best in citizen journalism 2024 Nominee best in storytelling 2025

"Ayuk siap-siap!"
"Mandi dulu, gantian!*
"Nggak usah mandi, kan mau mandi-mandi di laut!"
"Oh, iya!"
"Ya sudah, yuk langsung berangkat!"
"Toplesnya bawa semua saja. Minumnya sekalian!"
"Tikarnya jangan lupa!"
"Nggak usah bawa nasi, nanti beli saja sarapannya!"
"Oke, yuk berangkat!"
Maka Kami keluarga besar siap berangkat menuju pantai Jatimalang yang sekarang lebih dikenal sebagai pantai Dewa Ruci.

Biasanya, setiap berkumpul lebaran, kami memang memilih Pantai Dewa Ruci sebagai destinasi andalan. Jarak nya tidak terlalu jauh dari rumah, hanya sekitar 30-45 menit perjalanan dengan mobil pribadi.
Kami lebih suka berangkat pagi sesudah subuh, karena jalanan belum terlalu ramai, dan udara masih segar. Bisa menikmati pemandangan sekitar karena kami potong kompas melewati sawah-sawah yang terbentang sepanjang perjalanan.
Tak lama kami sudah memasuki area pantai Dewa Ruci. Meski masih pagi, portal sudah ada penjaga nya, kami segera membayar HTM 5 ribu/orang dan biaya parkir. Saat masuk lokasi, kami bebas mencari lokasi parkir tanpa ada tukang parkir yang mengatur.

Nama Pantai Dewa Ruci sendiri diambil dari kisah Wayang yang menceritakan perjalanan Bima, salah satu satria Pandawa mencari air Suci Perwita sari atas perintah gurunya, Pandita Durna.
Durna, di bawah pengaruh Kurawa, menyuruh Bima mencari Tirta Prawitasari ke tempat yang berbahaya, yang sesungguhnya bertujuan untuk menyingkirkan nya.
Saat masuk ke dalam laut, Bima berhasil mengalahkan naga raksasa yang berusaha menghalangi keinginannya. Adegan ini yang biasanya menjadi ikon kisah Dewa Ruci.

Bima bertemu dengan Dewa Ruci, Dewa kerdil yang sebenarnya adalah pengejawantahan dirinya sendiri.
Di sini Bima disuruh masuk telinga kirinya, dan di dalamnya, Bima melihat keindahan dunia (cahaya empat warna: hitam, merah, kuning, putih) dan menemukan hakikat kehidupan, yaitu bahwa Tuhan dan kebenaran sejati ada di dalam diri manusia sendiri.
Pantai Dewa Ruci kini lebih ramai dan mempunyai banyak tambahan fasilitas berbayar seperti kolam renang anak, dan saung yang disewakan.

Ada pengalaman yang cukup mendebarkan saat kami berwisata di Pantai Dewa Ruci saat libur lebaran.
Saat itu kami sebagian asyik bermain ombak, sedang yang lain asyik menggelar tikar dan ngobrol sambil menikmati kopi dan camilan yang kami bawa dari rumah.

Tiba-tiba datang ombak dahsyat yang airnya naik sampai jauh ke atas tempat kami ngobrol. Tikar tergulung, dan air membasahi tubuh kami yang sedang asyik bercengkrama. Hal ini sempat membuat syok.
Tak menyangka, air laut bisa mencapai kami yang jaraknya puluhan meter dari garis air. Tapi bersyukur, semua aman terkendali meski kami basah kuyup, dan tikar yang kami bawa tergenang air.

Menjadi pembelajaran berharga, bahwa kita tetap selalu hati-hati dan waspada, sekali pun jauh dari pantai"tsunami" bisa melanda kapan saja.
Di Pantai Dewa Ruci juga ada tempat pelelangan ikan jika kita ingin memborong ikan segar dan memasak nya sendiri di rumah untuk hidangan lebaran.

Usai bermain dan mandi, kami membersihkan diri dan bersiap untuk sarapan di warung ikan bakar Yu Yem. Kakak ipar yang sudah berpengalaman, sudah memesan meja dan menu yang kami inginkan sejak tadi kami baru datang, jadi saat perut lapar dan ingin sarapan, tak perlu menunggu lama.

Di sini menu favorit saya adalah kerapu bakarnya. Bumbunya meresap, aromanya menggoda, dan rasanya lezat. Harga nya pun terjangkau. Tidak menguras kantong. Meski begitu, menu lain juga tak kalah lezat, dari cumi dan udang asam manis, kakap bakar, dan cumi goreng tepung. Semua lezat, membuat kami bersantap dengan lahap.

Minumnya pun ada kelapa muda yang disajikan utuh, memberi kan rasa segar dan efek detoksifikasi.
Sungguh wisata keluarga saat libur lebaran yang tak terlupakan. Menciptakan keakraban dan kenyamanan dalam keluarga saat lebaran, meski kini orang tua telah tiada, semoga silaturahmi tetap terjaga. Aamiin...
Yuk simak video keseruan sekaligus detik-detik mendebarkan saat dilanda"tsunami" sampai jarak puluhan meter, hingga kami basah kuyup dan tikar tergenang air tersapu ombak.
Sumber: YouTube @Isti Yogiswandani channel
#Ramadan bercerita 2026 hari 24
#destinasi wisata andalan saat libur lebaran