Jandris_Sky
Jandris_Sky Mahasiswa

Kompasianer Terpopuler 2024 - 2025 Kompasiana Award Pelestari 2025

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

"Jangan Asal Checkout!" Gerakan Low-Buy & Anti-Impulsive Buying

5 Agustus 2026   21:55 Diperbarui: 5 Agustus 2026   21:55 56 8 1

Ada beberapa cara sederhana untuk menghindari impulse buying. Misalnya dengan membuat daftar kebutuhan sebelum membuka aplikasi belanja, menunggu 24 hingga 48 jam sebelum checkout, menghapus barang dari keranjang jika ternyata bukan kebutuhan utama, atau membatasi waktu membuka marketplace.

Cara lain yang cukup efektif adalah berhenti mengikuti akun yang terlalu sering mempromosikan produk konsumtif. Semakin sering kita melihat iklan, semakin besar pula keinginan untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan.

Menariknya, gerakan Low-Buy bukan hanya memberikan manfaat bagi kondisi keuangan, tetapi juga bagi lingkungan. Industri fesyen merupakan salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia. Produksi pakaian membutuhkan air, energi, bahan baku, serta menghasilkan emisi karbon yang cukup tinggi. 

Ketika pakaian hanya dipakai beberapa kali lalu dibuang, dampak lingkungannya menjadi semakin besar.

Dengan membeli lebih sedikit, menggunakan barang lebih lama, memperbaiki pakaian yang rusak, atau membeli produk bekas yang masih layak pakai, kita turut mengurangi timbulan sampah tekstil. Langkah kecil ini menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih berkelanjutan.

Gerakan ini juga sejalan dengan prinsip Reduce dalam konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Reduce berarti mengurangi konsumsi sejak awal sehingga sampah yang dihasilkan juga semakin sedikit. Cara ini bahkan dianggap lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan proses daur ulang.

Selain itu, Low-Buy mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Setiap keputusan membeli sebenarnya adalah bentuk pilihan yang memiliki dampak terhadap lingkungan, ekonomi, dan kehidupan sosial.

Yang menarik, banyak orang yang mengikuti tantangan Low-Buy justru merasa lebih tenang. Mereka tidak lagi mudah tergoda oleh tren sesaat dan mulai menikmati proses menggunakan barang hingga benar-benar habis masa pakainya. 

Mereka juga menjadi lebih menghargai setiap barang yang dimiliki karena dibeli dengan penuh pertimbangan.

Pada akhirnya, hidup sederhana bukan berarti hidup kekurangan. Justru dengan membeli secara bijak, kita memiliki kendali lebih besar atas keuangan dan tidak mudah terjebak dalam budaya konsumtif.

Jadi, sebelum menekan tombol checkout, coba tanyakan kepada diri sendiri, "Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau hanya tergoda karena sedang diskon?" Pertanyaan sederhana tersebut mungkin bisa menyelamatkan isi dompet, mengurangi timbulan sampah, dan ikut menjaga bumi tetap lestari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3