Jandris_Sky
Jandris_Sky Mahasiswa

Kompasianer Terpopuler 2024 - 2025 Kompasiana Award Pelestari 2025

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

"Jangan Asal Checkout!" Gerakan Low-Buy & Anti-Impulsive Buying

5 Agustus 2026   21:55 Diperbarui: 5 Agustus 2026   21:55 60 8 1


Jangan Belanja Terus! Gerakan Low-Buy & Anti-Impulsive Buying yang Diam-Diam Menyelamatkan Dompet dan Bumi

Pernah nggak sih, niat awalnya cuma ingin lihat-lihat di marketplace, eh tahu-tahu malah checkout beberapa barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan? 

Fenomena seperti ini kini semakin sering terjadi. Diskon besar, flash sale, gratis ongkir, hingga notifikasi "stok tinggal sedikit" membuat banyak orang membeli barang secara impulsif tanpa berpikir panjang.

Banyak orang baru menyadari bahwa lemari mereka sebenarnya sudah penuh dengan pakaian yang masih layak digunakan. (Sumber foto: Jandris_Sky/Gemini)
Banyak orang baru menyadari bahwa lemari mereka sebenarnya sudah penuh dengan pakaian yang masih layak digunakan. (Sumber foto: Jandris_Sky/Gemini)
Namun, di tengah budaya konsumtif tersebut, muncul sebuah gerakan yang semakin populer, yaitu Low-Buy dan Anti-Impulsive Buying. Gerakan ini bukan berarti pelit atau tidak punya uang, melainkan mengajak kita untuk lebih bijak dalam berbelanja demi mengurangi konsumsi massal, menghemat pengeluaran, sekaligus membantu menjaga lingkungan.

Salah satu tantangan yang sedang ramai dilakukan adalah tidak membeli baju baru selama satu bulan. 

Sekilas terdengar sederhana, tetapi ternyata cukup menantang. Banyak orang baru menyadari bahwa lemari mereka sebenarnya sudah penuh dengan pakaian yang masih layak digunakan. Bahkan, beberapa di antaranya masih memiliki label karena belum pernah dipakai.

Gerakan ini mengajarkan bahwa membeli pakaian baru bukanlah kebutuhan setiap saat. Dengan memanfaatkan pakaian yang sudah dimiliki, kita bisa lebih kreatif dalam memadukan outfit tanpa harus terus mengikuti tren mode yang berubah begitu cepat.

Selain tantangan tidak membeli pakaian, banyak orang juga mulai membatalkan langganan aplikasi yang jarang digunakan. Tanpa disadari, biaya langganan streaming, aplikasi edit foto, musik, atau layanan digital lainnya dapat menguras pengeluaran setiap bulan. 

Ketika dihitung dalam setahun, jumlahnya bisa mencapai jutaan rupiah.

Membiasakan diri mengevaluasi pengeluaran digital merupakan langkah sederhana yang memberikan dampak besar terhadap kondisi keuangan pribadi. Uang yang tadinya habis untuk langganan yang tidak dimanfaatkan bisa dialihkan menjadi tabungan, dana darurat, atau investasi.

Gerakan anti-impulsive buying juga mengajak kita untuk lebih berhati-hati ketika sedang scrolling marketplace. Banyak orang akhirnya membeli barang hanya karena sedang diskon, padahal sebelumnya tidak pernah berniat membelinya.

Ada beberapa cara sederhana untuk menghindari impulse buying. Misalnya dengan membuat daftar kebutuhan sebelum membuka aplikasi belanja, menunggu 24 hingga 48 jam sebelum checkout, menghapus barang dari keranjang jika ternyata bukan kebutuhan utama, atau membatasi waktu membuka marketplace.

Cara lain yang cukup efektif adalah berhenti mengikuti akun yang terlalu sering mempromosikan produk konsumtif. Semakin sering kita melihat iklan, semakin besar pula keinginan untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan.

Menariknya, gerakan Low-Buy bukan hanya memberikan manfaat bagi kondisi keuangan, tetapi juga bagi lingkungan. Industri fesyen merupakan salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia. Produksi pakaian membutuhkan air, energi, bahan baku, serta menghasilkan emisi karbon yang cukup tinggi. 

Ketika pakaian hanya dipakai beberapa kali lalu dibuang, dampak lingkungannya menjadi semakin besar.

Dengan membeli lebih sedikit, menggunakan barang lebih lama, memperbaiki pakaian yang rusak, atau membeli produk bekas yang masih layak pakai, kita turut mengurangi timbulan sampah tekstil. Langkah kecil ini menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih berkelanjutan.

Gerakan ini juga sejalan dengan prinsip Reduce dalam konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Reduce berarti mengurangi konsumsi sejak awal sehingga sampah yang dihasilkan juga semakin sedikit. Cara ini bahkan dianggap lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan proses daur ulang.

Selain itu, Low-Buy mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Setiap keputusan membeli sebenarnya adalah bentuk pilihan yang memiliki dampak terhadap lingkungan, ekonomi, dan kehidupan sosial.

Yang menarik, banyak orang yang mengikuti tantangan Low-Buy justru merasa lebih tenang. Mereka tidak lagi mudah tergoda oleh tren sesaat dan mulai menikmati proses menggunakan barang hingga benar-benar habis masa pakainya. 

Mereka juga menjadi lebih menghargai setiap barang yang dimiliki karena dibeli dengan penuh pertimbangan.

Pada akhirnya, hidup sederhana bukan berarti hidup kekurangan. Justru dengan membeli secara bijak, kita memiliki kendali lebih besar atas keuangan dan tidak mudah terjebak dalam budaya konsumtif.

Jadi, sebelum menekan tombol checkout, coba tanyakan kepada diri sendiri, "Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau hanya tergoda karena sedang diskon?" Pertanyaan sederhana tersebut mungkin bisa menyelamatkan isi dompet, mengurangi timbulan sampah, dan ikut menjaga bumi tetap lestari.

Mulailah dari tantangan kecil: satu bulan tanpa membeli baju baru, membatalkan langganan yang tidak diperlukan, dan berpikir dua kali sebelum belanja. Karena perubahan besar sering kali dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Dengan begitu, kita tidak hanya menjadi konsumen yang lebih cerdas, tetapi juga berkontribusi menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3