Masalahnya bukan pada teknologinya. Masalah muncul ketika kita mulai merasa tidak bisa melakukan apa-apa tanpa teknologi.
Coba saja perhatikan aktivitas sehari-hari. Baru bangun tidur, tangan langsung mencari smartphone. Mau mencari informasi, buka Google. Bingung membuat tulisan, bertanya kepada AI. Mau pergi ke suatu tempat, membuka peta digital. Sedang menunggu sesuatu, membuka media sosial.
Tanpa sadar, hampir setiap ruang kosong dalam kehidupan kita diisi oleh layar.
Padahal sebelum era digital berkembang seperti sekarang, manusia tetap bisa belajar, bekerja, menciptakan sesuatu, dan menyelesaikan masalah.
Caranya memang tidak secepat sekarang.
Ketika belum ada Google, orang mencari informasi melalui buku, majalah, surat kabar, perpustakaan, atau bertanya langsung kepada orang yang dianggap lebih tahu. Ketika belum ada AI, ide lahir dari membaca, berdiskusi, mengamati lingkungan, dan mencoba berkali-kali.
Mungkin prosesnya lebih lambat. Tetapi justru di situlah kemampuan berpikir dan kreativitas dilatih.
Menariknya, berbagai pembahasan tentang digital detox saat ini menunjukkan bahwa mengurangi paparan teknologi dapat membantu seseorang mendapatkan kembali fokus dan mengurangi gangguan.
Penelitian yang diterbitkan Scientific Reports pada 2026 juga mengaitkan digital disconnection dengan kecenderungan procrastination atau menunda pekerjaan.
Artinya, sesekali menjauh dari layar bukan berarti kita anti teknologi.
Justru kita sedang belajar mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan olehnya.