Opa Jappy
Opa Jappy Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Ratapan Anak-anak dan Remaja Putri di Gorontalo

11 Agustus 2026   04:01 Diperbarui: 10 Agustus 2026   20:26 437 5 0

Public Service Announcement I Pro Life Indonesia
Public Service Announcement I Pro Life Indonesia




Kampanye Anti Kekerasan Seksual terhadap Anak dan Remaja Putri dengan Modus Child Grooming di Gorontalo



Gorontalo, dengan sapaan akrab Bumi Serambi Madinah, sejak 5 Desember 2020 sebagai Provinsi di Utara, pemekaran dari Provinsi Sulut. Secara administratif terbagi 1 kota dan 5 kabupaten (Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, Bone Bolango, Boalemo, Pohuwato, dan Gorontalo Utara).

Masyarakat Bumi Serambi Madinah ditunjang dengan sektor perekonomian yang memadai; misalnya sebagai lumbung jagung nasional, hasil laut, serta potensi destinasi wisata pantai. Di samping itu, filosofi "Adat Bersendikan Syarak, Syarak Bersendikan Kitabullah;" menunjukan nuansa religius kuat sehingga menyandang julukan "Bumi Serambi Madinah"

Namun, di balik napas keagamaan dan norma adat tersebut, ada narasi kelam dan kontradiktif, tingginya angka kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak dan remaja putri. Kok bisa? Tingginya kasus tersebut memperlihatkan jurang pemisah antara tingginya simbolitas religiusitas daerah dengan perlindungan riil terhadap kelompok rentan, dhi. Anak-anak dan Remaja Putri.

Data dari SIMFONI PPA menunjukan bahwa pada kurun waktu lima tahun terakhir terjadi eskalasi laporan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Gorontalo. Kekerasan seksual (persetubuhan, pencabulan, dan pelecehan) secara konsisten mencapai lebih dari 50% hingga 60% dari keseluruhan total laporan kekerasan. Sebagian besar kekerasan terjadi di lingkungan keluarga/rumah serta terdekat korban. Pelaku dominan merupakan orang yang dikenal korban, seperti kerabat, tetangga, teman sebaya, hingga oknum tenaga pendidik/pengasuh.

Eskalasi Laporan Tahun 2021 - 2025, mengalami tren peningkatan karena meningkatnya keberanian korban/masyarakat melapor ke Aparat. Misalnya, Kasus Tahunan di  Tingkat Provinsi; 2023 dan 2024, 200 hingga 300-an kasus; jumlah laporan kekerasan tercatat berada pada angka tinggi. 2025, 404 kasus; kekerasan seksual secara konsisten menimpa anak-anak dan remaja perempuan di Gorontalo.

Meski peningkatan itu dipengaruhi membaiknya tingkat kesadaran masyarakat melapor dan tingginya kasus; tetap mengindikasikan bahwa anak dan remaja putri di Gorontalo dalam kerentanan serius, di ranah domestik dan institusional.

Kampanye Anti Predator Child Grooming| Pro Life Indonesia 
Kampanye Anti Predator Child Grooming| Pro Life Indonesia 

Klaster Kerentanan dan Contoh Kasus. Untuk memahami dinamika kekerasan seksual di Gorontalo secara utuh, kasus-kasus yang terjadi dapat dipetakan ke dalam tiga klaster utama:
  1. Klaster Perkotaan, Pusat Ekonomi, Pemerintah, Pariwisata, Masyarakat Berpenghasilan Rendah. Klaster Kota Gorontalo, kawasan pelabuhan, dan destinasi pariwisata. Tingginya akses internet, game, dan platform Medsos memicu maraknya Kekerasan Berbasis Gender Online hingga eksploitasi seksual anak secara komersial. Di kawasan permukiman Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), keterbatasan ruang fisik dan tekanan ekonomi orang tua yang bekerja hingga larut malam,  mengurangi pengawasan terhadap anak.
  2. Klaster Institusi Pendidikan (Sekolah Reguler & Berasrama). Klaster ini menjadi salah satu titik yang paling krusial. Karakter Gorontalo yang religius melahirkan banyak lembaga pendidikan berasrama serta sekolah reguler. Namun, lembaga-lembaga ini rentan menjadi arena penyalahgunaan relasi kuasa. Oknum pendidik atau pengasuh memanfaatkan posisi tawar mereka (nilai akademik, doktrin kepatuhan, atau otoritas moral) untuk memanipulasi korban. Banyak kasus tertutup rapat dalam waktu lama akibat ancaman psikologis serta dorongan internal lembaga menjaga "nama baik."

Kampanye Anti Predator Child Grooming |Pro Life Indonesia
Kampanye Anti Predator Child Grooming |Pro Life Indonesia
3. Klaster Kecamatan, Desa, & Area Pedalaman. Wilayah desa-desa agraris dan pesisir di kabupaten Boalemo, Pohuwato, dan Gorontalo Utara. Kasus didominasi oleh kekerasan domestik dan incest (dilakukan oleh kerabat dekat), dan tetangga. Hambatan geografis dan jarak ke pusat layanan membuat kasus di pedalaman sering tidak terdeteksi.

Kasus di wilayah ini sering  berlangsung dalam jangka waktu lama tanpa terdeteksi karena korban diancam dan diisolasi secara geografis dari akses bantuan. Selain itu, sempat ada upaya dari lingkungan sekitar atau keluarga pelaku untuk menyelesaikan kasus secara "damai" atau dinikahkan demi menghindari stigma desa. Penanganan kasus kekerasan seksual pada anak di wilayah pedesaan dan pedalaman Gorontalo menghadapi tantangan yang sangat kompleks. 

Di lingkungan desa yang relatif kecil, identitas korban sangat mudah tersebar. Ketakutan stigma "membawa aib" memicu pembungkaman. Selain itu, ada kecenderungan kuat dari tokoh lokal atau keluarga untuk menyelesaikan kasus secara "damai" atau menikahkan korban dengan pelaku. Meskipun layanan pendampingan dari pemerintah bersifat gratis, keluarga dari kalangan petani/nelayan kerap kesulitan menanggung biaya operasional harian dan kehilangan mata pencaharian selama proses hukum berlangsung.


Tuturan Akhir. Tingginya angka kekerasan seksual terhadap anak dan remaja putri di Gorontalo, terutama di lingkungan pendidikan dan pedalaman, alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan. Julukan "Bumi Serambi Madinah" dan filosofi adat yang luhur hendaknya tidak sekadar dijadikan simbol luar, melainkan diwujudkan secara nyata dalam bentuk perlindungan terhadap kelompok yang paling lemah.

Opa Jappy | Penggagas Kampanye Anti Predator Child Grooming
WA/Telp +62 81 81 26 858



Kampanye Anti Predator Child Grooming | Pro Life Indonesia
Kampanye Anti Predator Child Grooming | Pro Life Indonesia

Kampanye Anti Predator Child Grooming | Pro Life Indonesia 
Kampanye Anti Predator Child Grooming | Pro Life Indonesia