Keisha M Marthin
Keisha M Marthin Wiraswasta

Perempuan Asli Indonesia yang Berjuang untuk Perempuan

Selanjutnya

Tutup

Video

"Mereka adalah Besi Tua Bijak"

3 September 2026   10:49 Diperbarui: 3 September 2026   12:15 92 0 0

Ayah | Dokpri
Ayah | Dokpri

Di ruang-ruang diskusi media sosial, dari kolom komentar hingga grup percakapan keluarga, sering muncul pola komunikasi berulang. Argumen Diskusi dipatahkan bukan dengan data atau logika, melainkan dengan klaim atas usia: "Saya sudah makan asam garam kehidupan lebih dulu," atau "Anak kemarin sore tidak usah menggurui." Dialog pun tertutup secara prematur, kerap disertai kemarahan tanpa alasan yang jelas. Itulah gambaran keangkuhan atas pengalaman. Pengalaman tak lagi berfungsi sebagai guru yang bijak, melainkan benteng untuk menolak pemikiran baru.


Mitos Senioritas dan Kebijaksanaan

Asumsi umum mencatat bahwa bertambahnya usia berbanding lurus dengan bertambahnya kebijaksanaan. Hal tersebut tentu bisa benar, sebab generasi senior memiliki perspektif historis yang bernilai. Namun, realitas menunjukkan tidak semua orang tua serta-merta menjadi teladan dalam ruang dialog yang sehat.

Di era informasi yang bergerak cepat, pengalaman masa lalu yang tidak diperbarui berisiko menjadi usang. Dunia beberapa dekade lalu sangat berbeda dengan realitas digital hari ini. Menjadikan pengalaman pribadi masa lalu sebagai satu-satunya standar kebenaran di masa kini merupakan wujud bias konfirmasi dan penolakan terhadap pemikiran kritis.

Kematian Kognitif di Ruang Digital

Masalah utama muncul ketika senioritas berpadu dengan keengganan untuk terus belajar. Tanpa asupan informasi baru dan kemauan menelaah literasi terkini, pengalaman puluhan tahun hanya menjadi tumpukan memori tanpa relevansi. Ibarat mesin yang dibiarkan berkarat, pikiran yang berhenti belajar kehilangan kemampuannya untuk memproses realitas yang kian kompleks.

Media sosial memperjelas fenomena ini. Di ruang fisik, terdapat norma kesopanan yang menjaga jarak antargenerasi. Namun di media sosial, gagasan diuji secara setara. Ketika sanggahan datang dari yang lebih muda, sebagian orang merasa kehormatannya tersinggung. Diskusi pun bergeser: bukan lagi mencari apa yang benar, melainkan menegaskan siapa yang lebih tua. "Kartu usia" lalu dikeluarkan sebagai mekanisme pertahanan diri.

Sikap seperti itu membawa dampak nyata pada ekosistem literasi. Ruang Gema (Echo Chamber): Kelompok yang enggan menerima pandangan baru cenderung hanya berkumpul dengan sesamanya, memperkuat narasi yang belum tentu valid. Resistensi Generasi Muda, sehingga generasi muda menjadi enggan berbagi perspektif atau data karena merasa percakapan selalu dipatahkan oleh dominasi usia, bukan argumen ilmiah. Stagnasi Pemikiran, Tanpa kemauan mendengar kritik, pemikiran kolektif sulit untuk berkembang maju.

Menjadi Tua yang Bijak

Menjadi tua adalah keniscayaan, tapi bijak adalah pilihan. Kebijaksanaan sejati terletak pada kerendahan hati menganggap pengalaman sebagai kompas, bukan peta statis. Dunia terus berubah, dan pemahaman baru kerap dipegang oleh mereka yang melihat keadaan dengan kacamata terkini.

Senioritas dihargai secara alamiah ketika difungsikan sebagai mentor terbuka pada diskusi, bukan hakim yang anti-kritik. Menghargai gagasan yang muda tidak membuang wibawa, melainkan membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dan kebenaran tidak pernah dibatasi oleh tanggal lahir.

Jakarta, 25 Desember 2025

Ibu | Dokpri
Ibu | Dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2