Keisha M Marthin
Keisha M Marthin Wiraswasta

Perempuan Asli Indonesia yang Berjuang untuk Perempuan

Selanjutnya

Tutup

Video

"Jadikanlah Aku Pembawa Damai!"

5 September 2026   11:45 Diperbarui: 5 September 2026   11:45 73 0 0

Jadikanlah Aku | Dokpri
Jadikanlah Aku | Dokpri



Menjadikan Waktu sebagai Ruang Pelayanan dan Kedamaian

Suasana yang sejuk, dingin yang menenangkan, serta cerahnya langit menghadirkan kehangatan suasana. Momen indah seperti itu, membangkitkan keinginan sederhana tapi mendalam, andai durasi hari ini diperpanjang melebihi batas 24 jam. Suatu tuntutan yang pasti ditolak semesta; padahal ku hanya enggan kehilangan keindahan.

Mungkin Anda, seperti Saya, ingin menghentikan waktu; namun, realitas kehidupan mengingatkan bahwa segala sesuatu di Semesta terus bergerak. Sehingga tak ada satu pun momen hari ini yang benar-benar sama dengan hari kemarin maupun esok; segalanya senantiasa berubah. Meski seperti itu, jika merenungkan siklus waktu secara bijak, ada paradoks yang amat indah. Hari ini akan menjadi masa lalu yang jadi memori. Ketika besok, maka kembali menjadi "Hari Ini." Sehingga, Kemarin Hari Ini Besok tak pernah berakhir dan selalu sama; hanya gerak, gaya, suasana, kondisi, situasi yang berubah. Itulah hakikat hidup dan kehidupan, pada hakikatnya, senantiasa bergulir di dalam batas sakral bernama Hari Ini.

Setiap hari adalah kesempatan untuk melangkah, berpikir, dan bertindak; selalu hidup di "Hari Ini" melahirkan yang esensial, "Apa yang telah dan akan dilakukan untuk mengisi durasi hidup dan kehidupan Hari Ini sehingga membawa dampak positif ke sesama dalam kemanusiaan?" Itu bukan pertanyaan refleksi teoritis, tapi panggilan jiwa. Mengisi hari tidak cukup hanya dengan mengejar ambisi pribadi atau menyelesaikan rutinitas tanpa makna. Nilai sejati dari keberadaan diukur dari seberapa besar dampak yang dihadirkan, yang membangun, penuh cinta kasih, menghadirkan damai sejahtera, menyejukkan jiwa yang lelah, dan bahkan sanggup memulihkan luka-luka batin yang tersembunyi.

Kepastian jawaban atas pertanyaan tersebut tidak ditemukan dalam riuk rendah dunia, melainkan terungkap jelas pada bisikan hati. Ketika nurani telah memberikan kepastian jawaban, langkah berikutnya adalah mewujudkannya menjadi aksi nyata. Seperti doa indah Santo Fransiskus dari Asisi yang diwariskan lintas generasi, Semuanya dipanggil untuk menjadi instrument de paix, atau pembawa damai di tengah dunia

Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai.
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kecemasan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.

Tuhan, aku ingin
menghibur daripada dihibur,
memahami daripada dipahami,
mencintai daripada dicintai,

sebab
dengan memberi aku menerima,
dengan mengampuni aku diampuni,
dengan mati suci aku bangkit lagi untuk hidup selama-lamanya

##

Lord, make me an instrument of peace.
Where there is hatred, let me bring love.
Where there is injury, let me bring pardon.
Where there is discord, let me bring harmony.
Where there is doubt, let me bring faith.
Where there is error, let me bring truth.
Where there is despair, let me bring hope.
Where there is sadness, let me bring joy.
Where there is darkness, let me bring light.

O Lord, grant that I may
seek rather to console than to be consoled,
to understand than to be understood,
to love than to be loved.

For
it is in giving that we receive,
it is in pardoning that we are pardoned,
and it is in dying a holy death that we are born again to eternal life.

dengan memberi aku menerima,
dengan mengampuni aku diampuni,
dengan mati suci aku bangkit lagi untuk hidup selama-lamanya

Santo Fransiskus dari Assisi, 1182-1226

KMM 2026