Aku belajar tersenyum di depan dunia
Padahal dadaku retak tanpa suara
Kecewa tumbuh diam-diam di nadi
Menjadi malam yang tak mau pergi
Aku menanam dendam di tanah hati
Disiram air mata setiap hari
Ia tumbuh seperti palu tak terlihat
Menghantam iman yang hampir sekarat
Jantung pertahananku mulai runtuh
Setiap doa terasa rapuh
Namun di sela reruntuhan luka
Aku masih berdiri walau tersiksa
Jangan tanya kenapa aku berubah
Karena harapan terlalu sering patah
Aku bukan kuat, aku hanya terbiasa
Hidup berdampingan dengan kecewa
Luka ini mengajariku bertahan
Saat dunia tak sudi memberi tangan
Aku jatuh, aku hancur, aku hilang
Namun tak pernah benar-benar tumbang
Jika suatu hari aku menghilang
Bukan karena kalah pada keadaan
Aku hanya lelah berteriak sunyi
Di dunia yang tuli pada empati
Selama napas masih kutemukan
Aku tak akan menyerahkan harapan
Aku terluka, aku hampir tewas
Namun aku bernapas di antara luka yang keras