Aku melihat wajahmu dari kejauhan,
tersimpan luka yang tak terucapkan.
Cerita kita tampak sederhana,
namun diam-diam mendewasakan rasa.
Tentang luka, tentang air mata,
yang kita pelajari tanpa suara.
Tahukah engkau, pernahkah bertanya,
tentang kepergianku di kota pelajar sana?
Itu bukti aku masih bertahan,
meski luka melumuri perasaan.
Aku berdiri walau hampir runtuh,
menyembunyikan rapuh di balik tubuh.
Aku ingin kau tahu satu hal,
aku terlihat kuat seolah tak kenal gagal.
Padahal di dalam, semua berantakan,
tenggelam dalam luka dan tangisan.
Saat namamu dipilih dalam restu,
aku hanya diam menahan pilu.
Tak ada ruang untukku bertahan,
karena cinta kalah oleh keputusan.
Aku pergi membawa sisa rasa,
yang tak sempat kita jaga bersama.
Biarlah waktu jadi penawar luka,
meski kenangan tak pernah sirna.
Kini aku belajar merelakanmu,
meski hati belum benar-benar mampu.
Kuat di hadapanmu hanyalah semu,
karena yang hancur... tetaplah aku.