Malaikat malam terbang di langit yang sunyi,
Membawa rindu yang tak sempat terucap lagi,
Kusulam namamu di antara doa-doa sepi,
Meski jarak menutup semua jalan ini.
Tahukah engkau, Ning, di setiap air mata,
Ada namamu yang kusebut tanpa suara,
Aku menulis luka dengan bahasa jiwa,
Di antara gelap yang tak pernah reda.
Janganlah menangis, jangan kau gundah,
Hidup ini hanya singgah yang sementara,
Luka dan sedih hanyalah ujian semata,
Agar kita kuat menghadapi dunia.
Tetaplah tenang di sajadah malam,
Bersujud panjang dalam doa yang dalam,
Biarkan rindu luruh bersama harapan,
Di hadapan Tuhan yang Maha Menenangkan.
Malaikat jadi saksi setiap tasbih kita,
Di antara air mata yang jatuh tanpa kata,
Tentang cinta yang tak sempat bersama,
Namun tetap hidup dalam doa-doa.
Langit mendengar detak napas kita,
Yang menyebut nama-Nya penuh cinta,
Mungkin takdir tak mempertemukan di dunia,
Namun indah jika bersatu di surga-Nya.
Jika rindu ini tak pernah terbalas nyata,
Biarlah ia hidup dalam doa selamanya,
Karena cinta sejati bukan tentang bersama,
Namun tentang ikhlas dalam melepas rasa.