Wijaya Kusumah
Wijaya Kusumah Guru

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber di bidang ICT,Eduprenership, Learning, dan PTK. Siapa membantu guru agar menjadi pribadi yang profesional dan dapat dipercaya. Wijaya adalah Guru SMP Labschool Jakarta yang doyan ngeblog di http://wijayalabs.com, Wijaya oleh anak didiknya biasa dipanggil "OMJAY". Hatinya telah jatuh cinta dengan kompasiana pada pandangan pertama, sehingga tiada hari tanpa menulis di kompasiana. Kompasiana telah membawanya memiliki hobi menulis yang dulu tak pernah ditekuninya. Pesan Omjay, "Menulislah di blog Kompasiana Sebelum Tidur". HP. 08159155515 email : wijayalabs@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Diksi: Ketika Kata Menjadi Cinta yang Tak Pernah Selesai

7 Mei 2026   05:30 Diperbarui: 7 Mei 2026   06:26 267 8 5

narsum KBMN PGRI/dokpri
narsum KBMN PGRI/dokpri

Diksi: Ketika Kata Menjadi Cinta yang Tak Pernah Selesai

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)


Pernahkah kita jatuh cinta... hanya karena sebuah kalimat? Bukan karena wajah. Bukan karena suara. Tetapi karena kata-kata yang diam-diam menyentuh relung jiwa. Di situlah diksi bekerja.

Diksi bukan sekadar pilihan kata. Ia adalah rasa yang dipilih dengan hati. Ia adalah seni merangkai makna agar yang biasa terasa luar biasa. Para pujangga besar telah lama memahami rahasia ini. Kata yang sederhana, jika dipilih dengan tepat, mampu mengguncang perasaan yang paling dalam.

https://www.youtube.com/watch?v=s8QqiHTybpQ

Saya Omjay teringat ketika mengikuti Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI semalam. Pada sebuah pertemuan bertema "Diksi dan Seni Bahasa", narasumber ibu Maederly mengajak kami merenung:

"Mengapa ada tulisan yang dibaca lalu dilupakan, dan ada tulisan yang dibaca lalu menetap di hati?"

Jawabannya sederhana, tetapi dalam: diksi.

Diksi, Sang Perias Makna

Diksi adalah perias.
Ia tidak mengubah wajah makna,
tetapi memperindahnya agar lebih bermakna.

Bayangkan kata "sedih".
Ia biasa saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6