Khoirul Taqwim
Khoirul Taqwim Lainnya

Peneliti Tentang Kemasyarakatan

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Lagu - Di Hadapan Liang yang Lapar

29 Mei 2026   18:13 Diperbarui: 29 Mei 2026   18:13 119 2 0



Bernafas atau membusuk, tak ada bedanya lagi
Aku mematung di ujung sepi yang memakan diri
Menunggu taring takdir mengunyah sisa jantungku
Atau merobek urat dada, menyudahi seluruh pilu.

Mati kubayangkan semanis tidur tanpa terjaga
Lari dari koyakan daging dan ribuan lara
Menanti sebuah akhir yang anyir dan dingin
Saat bangkai yang lelah ini terbebas dari angin.

Namun di dalam tidur itu, teror apa yang 'kan menjemput?
Saat rongga dada hancur dan jasadku habis direbut
Ah, cakar tak kasat mata itu membuatku terpaku
Menatap liang lahat yang lapar dengan seluruh ragu.

Untuk apa manusia tetap mengunyah racun dunia?
Diludahi si angkuh, dicambuk tirani yang berkuasa
Merangkak di bawah kaki cinta yang membusuk mentah-mentah
Hingga seluruh kewarasan ini hancur dan patah.

Padahal seluruh anyir ini bisa senyap seketika
Hanya dengan sebilah belati besi di depan dada
Namun mengapa kita masih memelihara detak yang sekarat?
Memikul kutukan hidup yang baunya kian menyengat.

Sebab kita teramat ngeri pada sebuah misteri
Tentang dasar jurang kematian yang tak pernah kembali
Kita memilih memeluk iblis dunia yang sudah kita tahu
Daripada diseret ke dalam kegelapan mutlak yang baru.

Begitulah isi kepala membiakkan monster penakut
Tekad yang membara kini membusuk dan menyusut
Rencana-rencana besar kini menjadi mayat yang pucat
Lumpuh dalam kegilaan, kehilangan arah dan amanat.