
Di lorong-lorong sunyi Trowulan yang purba,
Dulu air suci mengalir, merawat cita-cita Nusantara.
Namun zaman berputar, sejarah terkubur debu,
Dan sarang tikus kini menjelma menjadi istana kelabu.
Lihatlah negeriku hari ini,
Sebuah panggung sandiwara yang penuh ilusi.
Negeri subur makmur yang katanya gemah ripah loh jinawi,
Kini merintih, terkoyak oleh kerakusan yang tak henti-henti.
Tikus-tikus bukan lagi sekadar hama di pematang sawah,
Mereka berevolusi menjadi monster berjas mewah.
Berdasi mahal, duduk pongah di kursi-kursi kekuasaan,
Mengunyah keringat rakyat tanpa rasa segan.
Negara ini semerawut, hukum bak jaring laba-laba,
Hanya menangkap yang lemah, namun tumpul pada mereka yang berkuasa.
Anggaran negara digerogoti dari dalam,
Meninggalkan rakyat kecil dalam pekatnya malam.
Mereka berteriak tentang kemakmuran di layar kaca,
Namun kenyataannya, jutaan anak bangsa masih menahan dada.
Harga-harga melambung tinggi mencekik leher,
Sementara para tikus tertawa, menikmati pesta pora di atas penderitaan geger.
Lihatlah fasilitas umum yang mangkrak terbengkalai,
Infrastruktur ambruk karena dana yang digarong sampai usai.
Uang rakyat mengalir deras ke rekening haram,
Membangun benteng keserakahan yang kian temaram.
Rakyat menjerit, meminta keadilan ditegakkan,
Tetapi suara mereka tenggelam dalam janji-janji yang dipalsukan.
Beras impor melimpah, petani menjerit kalah,
Pendidikan mahal, masa depan anak bangsa menjadi taruhannya sudah.
Oh, negeriku...
Kapan kutukan para tikus ini akan sirna?
Kapan keadilan akan benar-benar bertahta?
Jangan biarkan negeri ini binasa,
Tenggelam dalam kehancuran akibat ulah para perampok berseragam dusta.
Wahai para pemuda, wahai hati-hati yang masih terjaga,
Jangan biarkan tikus-tikus itu terus merajalela!
Bangkitlah, rawat kembali nurani bangsa yang telah mati,
Bersihkan negeri ini dari para koruptor yang keji!