Khoirul Taqwim
Khoirul Taqwim Lainnya

Peneliti Tentang Kemasyarakatan

Selanjutnya

Tutup

Video Pilihan

Lagu - Setenang Embun Pagi Tiba

14 Juni 2026   19:25 Diperbarui: 14 Juni 2026   19:25 104 6 0


Kota yang riuh mematikan rasa dan nalar,
Manusia menjadi robot mengejar angka fana.
Di balik senyum profesional, gundah kian menjalar,
Memaksa jiwa pergi mencari pelukan desa sana.

Aroma tanah basah menyambut langkah yang lelah,
Secangkir kopi hitam menghidupkan isi kepala.
Di kamar sastra yang sunyi, puing jiwa dibenah,
Menanti ziarah batin yang menghapus segala cela.

Mengikuti jejak sufi, ia menjauh dari duniawi,
Bersujud di atas batu kali pada sepertiga malam.
Mengetuk pintu rahmat-Mu dalam pasrah yang suci,
Membuang segala cemas ke dalam keheningan dalam.

Kebekuan aksara pecah bersama derasnya arus,
Pena menari lincah melahirkan sungai puisi.
Fajar tiba membawa merdu burung berkicau tulus,
Menghidupkan ruang rindu dengan melodi alam suci.

Di kaki gunung, buruh memecah batu dengan godam,
Bertarung fisik demi sesuap nasi keluarga di rumah.
Menampar keluhan kota yang selama ini terendam,
Membakar rasa malas menjadi rasa hormat yang megah.

Gerimis malam membawa bayang perih masa lalu,
Tentang cinta lama yang melukai lewat bait sajak.
Kertas-kertas duka dibakar di atas lilin yang pilu,
Kini ia pulang pada pelukan istri yang paling bijak.

Di tepi laut Selatan, desau angin menyapa mesra,
Menatap masa depan bersama keluarga kecil tercinta.
Lumpuh sudah gundah yang dulu bertahta di dada,
Hati bersih dan merdeka, setenang embun pagi tiba.