Apakah jawabanmu,
"kita teman saja,"
akan kuingat sepanjang hidupku?
Jika kelak kata itu tetap tinggal dalam ingatan,
aku berharap ia menjadi semangat,
bukan menjadi pesakitan
di setiap napas yang kujalani.
Kadang aku merenung dalam malam,
ketika dunia telah lama terdiam,
dan aku bersujud di hadapan Tuhan.
Mengapa air matamu harus jatuh
saat mengatakan, "kita teman saja"?
Apakah engkau merasa kasihan kepadaku,
atau ada rasa tak enak di dalam hatimu?
Janganlah engkau risau,
apalagi menyimpan kesedihan karena jawabmu.
Biarkan beban dari kata-kata itu
cukup aku yang menerimanya.
Engkau tidak perlu merasa bersalah,
sebab setiap hati memiliki jalan
yang tidak selalu dapat dipaksa.
Mungkin aku pernah berharap terlalu jauh,
menafsirkan kedekatan sebagai sebuah pertanda,
mengira langkah yang berjalan beriringan
akan membawa kita menuju tujuan yang sama.
Namun ternyata Tuhan mengajarkan kepadaku,
bahwa tidak semua pertemuan
diciptakan untuk menjadi kepemilikan.
Jika suatu hari aku mengingatmu,
aku tidak ingin mengingat luka.
Aku ingin mengingat air mata itu
sebagai sebuah kejujuran yang pernah hadir.
Bahwa di antara dua hati
yang tidak ditakdirkan untuk bersama,
masih mungkin ada kasih yang tetap manusiawi.
Maka biarlah kata "teman saja"
menjadi halaman dalam perjalanan hidupku.
Bukan rantai yang mengikat langkahku,
bukan pula duri yang menusuk setiap kenangan.
Aku akan membawanya sebagai pelajaran,
bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki,
dan melepaskan pun dapat menjadi bentuk ketulusan.
Sebab hidup ini hanya sementara,
dan kita hanyalah pejalan di jalan takdir Tuhan.
Hari ini kita bertemu,
esok mungkin hanya menjadi cerita.
Jika memang jalan kita harus berbeda,
semoga langkahmu dipenuhi kebahagiaan,
dan langkahku dipenuhi keikhlasan.