Sebuah bangunan tua berdiri kokoh, menghadap langsung ke laut lepas...
Mercusuar Bengkulu.
Dari kejauhan, ia tampak biasa saja. Tidak semegah gedung-gedung modern. Tidak pula ramai oleh keramaian wisata. Tapi justru di situlah letak keunikannya.
Mercusuar ini tidak butuh sorotan... karena sejak dulu, justru dialah yang memberi cahaya.
Kami mulai mendekat. Tangga-tangga tua, cat yang mulai memudar, dan dinding yang seolah menyimpan waktu. Setiap sudutnya seperti berbicara... tentang perjalanan panjang yang tidak semua orang tahu.
Dan di titik itu saya mulai berpikir...
Hari ini, banyak dari kita ingin terlihat "bersinar".
Ingin dikenal. Ingin dilihat. Ingin diakui.
Tapi kita lupa... bahwa cahaya sejati tidak selalu untuk dilihat.
Seperti mercusuar ini.
Ia berdiri diam. Tidak bergerak. Tidak ke mana-mana.
Tapi justru menjadi penunjuk arah... bagi mereka yang tersesat di lautan.
Angin laut berhembus cukup kencang. Suara ombak terdengar jelas menghantam karang. Di atas sana, langit terbuka luas... seolah memberi ruang bagi siapa saja yang ingin berpikir lebih dalam.
Kami mencoba naik perlahan. Setiap langkah terasa seperti kembali ke masa lalu. Tidak ada kemewahan... hanya kesederhanaan yang jujur.