"Kita hidup di zaman di mana semua orang ingin terlihat bersinar... tapi ironisnya, justru makin banyak yang kehilangan arah.
Media sosial penuh dengan pencapaian, perjalanan, dan kebahagiaan yang dipamerkan. Semua tampak terang. Semua terlihat 'bercahaya'. Tapi di balik itu... berapa banyak dari kita yang sebenarnya masih bingung menentukan arah hidupnya sendiri?
Aneh, ya...
Di tengah begitu banyak 'cahaya', justru rasa gelap itu makin terasa.
Dan di titik itulah, saya dan istri dipertemukan dengan sesuatu yang tidak pernah meminta untuk dilihat... tapi sejak dulu justru menjadi penunjuk arah.
Sebuah bangunan tua yang berdiri diam di tepi laut...
Mercusuar Bengkulu.
Tidak viral. Tidak ramai. Tidak juga mewah.
Tapi mungkin... justru di tempat sederhana inilah, saya menemukan satu pertanyaan penting:
Selama ini... kita sebenarnya ingin bersinar,
atau benar-benar ingin memberi arah?"

Pagi itu, langkah kami membawa kami ke sebuah tempat yang sering terlupakan... tapi justru menyimpan cerita yang tidak sederhana.
Sebuah bangunan tua berdiri kokoh, menghadap langsung ke laut lepas...
Mercusuar Bengkulu.
Dari kejauhan, ia tampak biasa saja. Tidak semegah gedung-gedung modern. Tidak pula ramai oleh keramaian wisata. Tapi justru di situlah letak keunikannya.
Mercusuar ini tidak butuh sorotan... karena sejak dulu, justru dialah yang memberi cahaya.
Kami mulai mendekat. Tangga-tangga tua, cat yang mulai memudar, dan dinding yang seolah menyimpan waktu. Setiap sudutnya seperti berbicara... tentang perjalanan panjang yang tidak semua orang tahu.
Dan di titik itu saya mulai berpikir...
Hari ini, banyak dari kita ingin terlihat "bersinar".
Ingin dikenal. Ingin dilihat. Ingin diakui.
Tapi kita lupa... bahwa cahaya sejati tidak selalu untuk dilihat.
Seperti mercusuar ini.
Ia berdiri diam. Tidak bergerak. Tidak ke mana-mana.
Tapi justru menjadi penunjuk arah... bagi mereka yang tersesat di lautan.
Angin laut berhembus cukup kencang. Suara ombak terdengar jelas menghantam karang. Di atas sana, langit terbuka luas... seolah memberi ruang bagi siapa saja yang ingin berpikir lebih dalam.
Kami mencoba naik perlahan. Setiap langkah terasa seperti kembali ke masa lalu. Tidak ada kemewahan... hanya kesederhanaan yang jujur.
Dan dari atas... pemandangannya luar biasa.
Laut terbentang luas tanpa batas.
Angin terasa lebih kuat.
Dan untuk beberapa detik... semuanya terasa hening.
Di sana saya sadar... mungkin hidup tidak harus selalu tentang bergerak cepat.
Kadang, kita hanya perlu berdiri... di tempat yang tepat.
Seperti bangkai kapal tua yang kami jadikan background foto kami.
Bengkulu sekali lagi mengajarkan hal sederhana, bahwa tidak semua yang berharga harus terlihat mencolok.
Mercusuar ini tidak pernah meminta perhatian.
Tidak pernah mengejar popularitas.
Tapi keberadaannya... selalu berarti.
Lalu kita?
Kenapa sering merasa harus terlihat hebat... untuk bisa merasa cukup?
Kenapa harus menunggu pengakuan... untuk merasa bernilai?
Perjalanan ini mungkin singkat.
Tidak jauh. Tidak mewah.
Tapi seperti biasa... selalu meninggalkan sesuatu.
Sebuah pengingat...
Bahwa dalam hidup, mungkin kita tidak harus menjadi pusat perhatian.
Cukup menjadi "cahaya"...
bagi satu dua orang yang benar-benar membutuhkan arah.