Pandakian romantis berdua bersama istri di jalur Gunung Geugeur, Sentul, adalah pelarian akhir pekan yang sempurna. Menawarkan trek yang sejuk dan pemandangan asri, perjalanan ini menyegarkan fisik sekaligus hubungan, selama tidak ada yang ngambek minta digendong saat menanjak! (MisbahMoerad)
Pernahkah Anda melihat istri Anda menatap tajam karena suaminya salah belok jalur?
Itulah awal dari petualangan saya dan belahan jiwa ketika memutuskan healing tipis-tipis ke Gunung Geugeur, Sentul. Dari pada pusing merencanakan liburan mewah, kami memilih mendengarkan jeritan alam dan sedikit jeritan manja istri saya saat harus menanjak.

Pagi itu, udara Sentul masih malu-malu menyapa. Berbekal tas ransel yang tidak terlalu besar dan perbekalan secukupnya, kami melangkah menyusuri jalur setapak. Awalnya, langkah kami layaknya model yang sedang berjalan di atas catwalk hutan. Istri saya tampil modis dengan topi rimba, dan saya berjalan gagah di sampingnya.
Namun, ilusi itu seketika buyar saat tanjakan pertama menghadang. Ternyata, "bukit" kecil di Sentul ini punya cara unik untuk menguji stamina sekaligus kesabaran rumah tangga.
"Sayang, tanjakan ini cuma ilusi, kan?" tanya istri saya sambil terengah-engah.
"Iya, ilusi yang bikin betis kita bergetar," jawab saya sambil tertawa, yang langsung dihadiahi cubitan kecil di pinggang.
Sepanjang perjalanan, godaan-godaan kecil menjadi bahan bakar penyemangat kami. Saat istri mulai melambatkan langkah, saya akan berbisik, "Ayo, Sayang! Kalau kita sampai puncak duluan, pemandangannya indah banget. Kalau aku yang sampai duluan, nanti aku siapin camilan kesukaanmu." Rayuan maut ini terbukti ampuh. Seketika langkahnya menjadi lebih cepat, seolah sedang dikejar diskon pusat perbelanjaan, bukan dikejar waktu menuju puncak.
Berjalan berdua diapit pepohonan hijau dan suara serangga hutan memberikan sensasi ketenangan yang luar biasa. Sesekali kami berpapasan dengan pendaki lain yang sekadar melempar senyum atau menyapa, "Semangat, Kak! Puncaknya tinggal sedikit lagi." Kalimat sakti yang sering kali menjadi lelucon karena "sedikit lagi" versi pendaki ternyata butuh perjuangan berkeringat.