Opa Jappy Official
Opa Jappy Official Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Video dan Esai "Pergi adalah Jejak agar Pulang"

18 Mei 2026   10:52 Diperbarui: 18 Mei 2026   10:52 141 1 0

Pergi dari Rumah | Vicky Wibisono
Pergi dari Rumah | Vicky Wibisono



Pergi adalah Jejak agar Pulang



Pergilah dari Rumah! 

Tapi, Jangan Melupakan Jalan Pulang
"Saatnya ketika kamu pulang, rumah ini masih ada di sini, masuklah; karena tak ada pintu yang menghalangimu. Pergilah!"


Kata-kata itu terdengar jelas di balik ransel yang sengaja kutaruh untuk menutup telinga. Suara Ibu, menahan isak. Namun, langkah kaki tetap menuju bandara; aku harus terbang ke Vietnam beberapa jam lagi. Sudah lama, lima tahun lalu, tak pernah kembali. Kini, memori itu memanggil kembali ke ruang kosong. Apakah ruang itu masih ada? Yah... Ibu!

Di Antara Riuh Hanoi dan Sunyi Kamar Kos. Lima tahun di sini, melihat dan merasakan banyak hal. Deru dan kebisingan Hanoi, sambil menatap dari ketinggian ruang dingin adalah latar belakang keseharianku. Dari ketinggalan dan kesejukan ini, aku sibuk mengejar mimpi, meniti karier, dan membangun eksistensi di tanah asing. Setiap kali keberhasilan kecil kuraih, ego berbisik bahwa keputusan untuk pergi adalah mutlak benar.

Namun, setiap malam, di dalam ruang kesendirian, kekosongan itu kembali muncul. Ruang kosong yang ditinggalkan itu selalu penuh aroma dapur Ibu, ketukan lembut di pintu, dan keheningan hangat tanpa banyak kata.

Aku menyadari, sejauh apa pun paspor membawaku berpindah, ada bagian yang tertinggal di sudut ruang rumah. Di sana, di tempat Ibu melepasku dengan air mata yang disembunyikan. Waktu mungkin berjalan maju, tapi rindu selalu berjalan mundur.

Aku mulai bertanya-tanya pada diri, "Apakah kesibukan ini adalah pencapaian, atau sekadar pelarian dari ketakutan menghadapi kerinduan yang mendalam?" Hingga akhirnya, pesan singkat foto sudut rumah yang menua kukirim melalui awan kerinduan.

Ternyata, menatap layar digital tidak cukup menggantikan tatapan mata Ibu. Keputusan dibuat. Tas dikemas. Ransel yang dulu dipakai untuk menyumbat telinga dari tangis Ibu, kini digendong dengan tujuan berbeda, berbalik arah.

Pada akhirnya, hubungan yang ada saat ini, dengan pasangan, keluarga, maupun sahabat, memerlukan refleksi mendalam. Sudahkah ada waktu untuk duduk bersama dalam ketulusan yang sunyi? Ataukah kesibukan mencari validasi di tengah riuhnya dunia masih mendominasi?

Menyediakan ruang untuk keheningan bersama adalah cara terbaik agar tidak benar-benar kehilangan arah. Sebab, sejauh apa pun raga melangkah menjelajah dunia, bahkan melintasi ruang geografis, vhati harus selalu mengingat jalan pulang.

Karena hanya di ruang rumah dan pelukan Ibu itulah, proses Bergandengan Hati Dalam Keheningan dan Sama-sama Mendengar Kehendak Hati dapat mewujud nyata. Ingatan kembali pada ke lukisan kata-kata dari Opa, bahwa

"Setiap gerak pergi dari rumah, sesungguhnya adalah jejak bertahap agar kembali dan pulang.

Pergi dari Rumah bukan perpisahan abadi, melainkan busur panah  ditarik ke belakang, hanya untuk melesat pulang ke titik mula yang paling sejati.

Kekuatan sejati tidak terletak pada seberapa keras suara yang dikeluarkan, melainkan pada ketulusan hati untuk saling menguatkan dalam diam."


Deskripsi "Ketika Vicky Bertutur"


Indonesia Membasmi Predator Child Grooming
Indonesia Membasmi Predator Child Grooming