Pagi itu, jam sudah menunjukkan pukul 06 lewat 15 menit. Matahari baru mau mengintip, tapi aku sudah siap sedia berangkat. Ada yang beda dari perjalanan kali ini: aku pergi sendirian. Bukan karena ada masalah rumah tangga ya, tenang saja! Istriku sebenarnya ikut ke Mojokerto juga, tapi... eh dia punya janji suci yang tak bisa diganggu gugat: ketemuan sama teman lamanya. Katanya sih, "Biar ngobrolnya asik nggak ada yang ganggu," ya sudahlah, aku mengalah saja. Daripada bengong di hotel, aku putuskan buat jelajah sendiri, dan tujuan pertamaku? Candi Gentong.
Pertama dengar namanya, aku sempat mikir: "Wah, ini candi bentuknya kayak gentong air ya? Atau dulu fungsinya buat tempat masak besar-besaran?" Ternyata dugaanku meleset jauh, hehe.
Mari kita bahas sedikit sejarahnya biar makin paham, tapi tenang, nggak bakal kaku kayak buku pelajaran sejarah kok.

Dari catatan yang ada, Candi Gentong ini diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Majapahit, tepatnya sekitar abad ke-14 Masehi. Nama aslinya sebenarnya belum diketahui pasti, tapi warga sekitar menamainya begini karena bentuk bangunannya yang bundar dan agak cekung di tengah, persis seperti gentong besar yang biasa dipakai buat menampung air. Konon, candi ini dulunya merupakan tempat pemujaan atau berkaitan dengan kegiatan keagamaan umat Hindu pada zamannya. Uniknya lagi, dulunya candi ini sempat tertimbun tanah dan baru ditemukan kembali serta dipugar sekitar tahun 1980-an. Jadi bisa dibilang, dia sempat "tidur panjang" berabad-abad lamanya sebelum akhirnya bangkit dan dibersihkan buat dinikmati kita semua sekarang.
Kalau kamu mau ke sini, lokasinya cukup gampang dicari. Berada di Desa Dinawati, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Letaknya nggak jauh-jauh banget dari situs peninggalan Majapahit lainnya, jadi pas banget kalau kamu mau bikin rencana jalan-jalan keliling situs sejarah dalam satu hari. Jalannya sudah bagus, aksesnya lancar, dan area parkirnya cukup luas---jadi tenang aja, nggak perlu pusing mikirin kendaraan mau ditaruh di mana.
Nah, sekarang bagian yang lucu dan seru dari kunjunganku kali ini!
Pertama, pas aku sampai di sana, suasana sepi banget. Tenang, damai, sejuk, cuma ada suara burung berkicau dan angin yang berhembus. Rasanya kayak punya candi pribadi deh, haha!
Aku sempat berputar-putar mengelilingi candi sambil memotret sana-sini. Pas lagi asik foto-foto dengan gaya sok estetik, tiba-tiba ada kucing warna oranye lewat santai banget seolah dia penguasa tempat itu. Dia berhenti, menatapku tajam seolah bilang: "Lho, ada tamu baru ya? Bayar pajak kehadiran dong!"
