Pelabuhan nelayan ini memiliki suasana yang khas. Perahu-perahu berjajar rapi, para nelayan sibuk dengan aktivitasnya, sementara angin laut membawa aroma khas pesisir.
Saya berkata kepada istri,
"Kalau pensiun nanti, enak juga ya punya perahu kecil di sini."
Beliau langsung menjawab sambil tersenyum,
"Jangan dulu... yang sekarang saja masih banyak rencana."
Perjalanan berlanjut menuju Titik Nol Kilometer Jalan Anyer--Panarukan.
Di sinilah kami sejenak terdiam.

Bukan karena pemandangannya semata, tetapi karena sejarah panjang yang tersimpan di tempat ini. Jalan Anyer--Panarukan dibangun pada masa kolonial dengan kerja paksa (rodi), meninggalkan kisah tentang perjuangan, penderitaan, dan pengorbanan ribuan rakyat Nusantara.
Saya mengajak anak-anak membaca kisah yang tertulis di lokasi.
"Kalau kita sekarang bisa menikmati jalan yang mulus, jangan lupa ada sejarah panjang yang pernah terjadi di negeri ini."