"Kalau kemarin kami menyusuri jejak para sultan, hari ini kami akan mengejar matahari dari pegunungan, pantai, rawa hingga berakhir di ujung barat Pulau Jawa."
Alarm pagi berbunyi lebih cepat dari biasanya.
Masih terasa lelah setelah seharian berkeliling Banten pada hari pertama, tetapi semangat kami tetap penuh. Saya, istri, dan anak-anak sudah menyiapkan daftar destinasi yang hari ini jumlahnya jauh lebih banyak.

Saya sempat bercanda,
"Hari ini yang capek bukan motornya, tapi memori kamera dan kaki kita."
Istri langsung menyahut,
"Yang penting nanti jangan bilang pulangnya mau pijat satu keluarga."
Kami pun tertawa sambil melanjutkan perjalanan.
Destinasi pertama adalah Batu Qur'an.
Suasananya tenang dan penuh nuansa religius. Tempat ini menjadi salah satu lokasi yang banyak dikunjungi karena nilai sejarah dan cerita yang melekat di dalamnya. Kami menikmati suasananya dengan santai sambil mengabadikan beberapa foto.

Perjalanan dilanjutkan menuju Curug Betung.
Udara mulai terasa sejuk ketika kendaraan mendekati kawasan hutan. Gemericik air sudah terdengar sebelum air terjunnya benar-benar terlihat.
Anak-anak langsung bersemangat.
"Pah... foto di sini pasti keren!"
Saya hanya menjawab,
"Kalau tidak licin, ayo cari batu yang paling bagus buat foto."
Curug Betung menyuguhkan suasana alami yang membuat rasa lelah perjalanan seakan hilang begitu saja.

Setelah menikmati kesegaran alam, kami menuju Karangantu.
Pelabuhan nelayan ini memiliki suasana yang khas. Perahu-perahu berjajar rapi, para nelayan sibuk dengan aktivitasnya, sementara angin laut membawa aroma khas pesisir.
Saya berkata kepada istri,
"Kalau pensiun nanti, enak juga ya punya perahu kecil di sini."
Beliau langsung menjawab sambil tersenyum,
"Jangan dulu... yang sekarang saja masih banyak rencana."
Perjalanan berlanjut menuju Titik Nol Kilometer Jalan Anyer--Panarukan.
Di sinilah kami sejenak terdiam.

Bukan karena pemandangannya semata, tetapi karena sejarah panjang yang tersimpan di tempat ini. Jalan Anyer--Panarukan dibangun pada masa kolonial dengan kerja paksa (rodi), meninggalkan kisah tentang perjuangan, penderitaan, dan pengorbanan ribuan rakyat Nusantara.
Saya mengajak anak-anak membaca kisah yang tertulis di lokasi.
"Kalau kita sekarang bisa menikmati jalan yang mulus, jangan lupa ada sejarah panjang yang pernah terjadi di negeri ini."
Mereka mengangguk pelan.
Perjalanan kemudian menuju Masjid Agung Banten.
Suasana religius begitu terasa. Kami menyempatkan beristirahat sejenak, menikmati keindahan arsitektur masjid yang menjadi salah satu ikon Banten.
Setelah itu perjalanan kembali menuju kawasan pantai.

Pertama kami singgah di Pantai Batu Tumpang.
Hamparan batu karang yang unik berpadu dengan deburan ombak menciptakan pemandangan yang berbeda dari pantai-pantai lain.
Tidak jauh dari sana kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Kelapa.
Deretan pohon kelapa yang melambai diterpa angin membuat suasana terasa sangat santai.
Saya kembali bercanda,
"Kalau begini, kopi sore ditemani kelapa muda rasanya sudah cukup membuat bahagia."
Anak-anak langsung menimpali,
"Tambah gorengan, Pah..."
Kami semua kembali tertawa.
Masih belum selesai.

Perjalanan berikutnya membawa kami menuju Rawa Danau, kawasan cagar alam yang menawarkan pemandangan hijau yang begitu menenangkan.
Hamparan rawa yang luas, pepohonan, serta udara segar membuat perjalanan panjang hari ini terasa semakin lengkap.
Menjelang sore kami akhirnya memasuki kawasan yang sejak lama ingin kami kunjungi...
Ujung Kulon.
Perjalanan menuju kawasan ini cukup panjang, tetapi setiap kilometer yang kami tempuh terasa sepadan.
Di sinilah kami mengakhiri seluruh perjalanan hari kedua.
Matahari mulai turun perlahan.
Langit berubah menjadi jingga.
Kami duduk menikmati suasana sambil saling bercerita tentang destinasi mana yang paling berkesan hari ini.
Saya bertanya kepada anak-anak,
"Kalau besok disuruh mengulang satu tempat hari ini, pilih yang mana?"

Jawaban mereka berbeda-beda.
Ada yang memilih curug.
Ada yang memilih pantai.
Ada pula yang memilih Ujung Kulon.
Mungkin memang itulah indahnya sebuah perjalanan.
Setiap orang pulang membawa kenangan yang berbeda.
Malam pun tiba.
Kami menikmati makan malam sederhana dengan menu seafood khas pesisir sambil melepas lelah setelah seharian menjelajah Banten.
Hari ini kami tidak kembali ke hotel sebelumnya.
Malam ini kami memilih bermalam di kawasan Ujung Kulon.
Besok pagi, petualangan baru kembali menanti.
Karena setiap perjalanan selalu memiliki cerita yang belum selesai...
Indonesia bukan hanya untuk dikunjungi, tetapi untuk dikenal, dicintai, dan diceritakan kepada sebanyak mungkin orang.