Video Pilihan

Ketika Rencana Makan Siang Berubah Menjadi Petualangan Kecil yang Menyenangkan

4 Juli 2026   05:30 Diperbarui: 3 Juli 2026   20:17 215 24 14


Gunung Peyek

"Bukan mencari tempat yang sempurna, tetapi menemukan cerita di setiap perjalanan."

"Kadang perjalanan yang paling berkesan justru berawal dari kalimat sederhana, 'Pah... kita ke sini, yuk.'"

Pagi itu sebenarnya kami tidak memiliki rencana besar.

Tidak ada target mendaki gunung, mengejar air terjun, ataupun melakukan perjalanan jauh. Keinginan kami sederhana saja, jalan-jalan sebentar, menikmati suasana, makan siang bersama, lalu kembali pulang.

Saya, istri, dan dua anak perempuan kami berangkat dengan santai.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Awalnya tujuan kami hanya ke arah Depok.

Di tengah perjalanan, istri sibuk memainkan telepon genggamnya. Seperti biasa, ia sedang menjelajahi "Mbah Google", mencari tempat-tempat menarik yang mungkin belum pernah kami kunjungi.

Tiba-tiba ia berkata,

"Pah... kita ke sini, yuk. Sepertinya kita belum pernah ke sini. Lokasinya dekat dengan Tirta Sanita, tempat kita dulu pernah berendam air panas. Namanya Gunung Peyek. Siapa tahu Papa mau berendam lagi. Dari fotonya kelihatannya bagus, ada di atas bukit."

Sambil berbicara, ia memperlihatkan layar ponselnya.

Saya melihat beberapa foto.

Tempatnya tampak menarik.

Tanpa berpikir panjang saya menjawab,

"Hayu... kita ke sana saja. Pulangnya baru cari makan. Terserah anak-anak nanti maunya makan apa."

Begitulah keluarga kami.

Sering kali perjalanan terbaik justru lahir tanpa perencanaan panjang.

Perjalanan menuju Wisata Air Panas Gunung Peyek cukup nyaman. Lokasinya berada di Desa Bojong Indah, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor. Dari arah Depok, perjalanan hanya memerlukan waktu sekitar satu jam melewati jalur Sawangan, Bojongsari, hingga Ciseeng.

Semakin mendekati lokasi, suasana perkotaan perlahan berganti menjadi hamparan sawah dan perkampungan yang masih asri.

Udara pun terasa lebih segar.

"Koleksi : Misbah Moerad"

Sesampainya di lokasi, saya sempat tersenyum sendiri.

Dalam hati saya bertanya,

"Mengapa namanya Gunung Peyek?"

Menurut saya, tempat ini lebih menyerupai sebuah bukit daripada gunung. Tidak terlalu tinggi, tetapi berada di kawasan yang sedikit lebih tinggi dibanding sawah-sawah di sekitarnya.

Mungkin itulah nama yang sudah diberikan masyarakat sejak lama.

Yang pasti, pemandangan dari atas bukit cukup indah.

Daya tarik utama tempat ini adalah kolam air panas alami yang berada di atas bukit kapur dengan kandungan belerang.

Airnya hangat.

Uap tipis sesekali terlihat naik ke permukaan.

Suasananya tenang.

Saat kami datang, rasanya seperti tempat itu memang sedang menunggu kami.

Tidak banyak pengunjung.

Bahkan ketika saya memutuskan untuk berenang dan berendam, hanya keluarga kami yang berada di area kolam.

Rasanya seperti memiliki kolam pribadi.

Saya menikmati hangatnya air yang perlahan mengusir rasa lelah.

Sementara istri dan anak-anak lebih banyak menikmati suasana sekitar sambil sesekali mengabadikan momen.

Tempat ini memang sederhana.

Fasilitasnya juga tidak mewah.

"Koleksi : Misbah Moerad"

Area parkir cukup memadai, tersedia beberapa warung sederhana, dan untuk mencapai kolam kami harus berjalan kaki melewati pematang sawah yang justru menjadi bagian menarik dari perjalanan.

Kami melihat dulu beberapa kolam kecil di atas bukit, bagus buat sesi foto disini, dengan latar belakang sawah yang ada di bawah.

Bagi sebagian orang mungkin aksesnya terasa sedikit menantang.

Namun bagi kami, berjalan menyusuri pematang sawah sambil menikmati semilir angin justru menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Harga tiket masuknya pun sangat terjangkau.

Dengan biaya yang relatif murah, kami bisa menikmati suasana alam yang masih alami sekaligus merasakan hangatnya air belerang yang dipercaya banyak orang baik untuk relaksasi.

Setelah puas berendam dan menikmati suasana, kami kembali menuju mobil.

Sesuai rencana awal, perjalanan belum selesai.

Kini saatnya mencari makan siang.

Anak-anak mulai berdiskusi ingin makan apa.

"Koleksi : Misbah Moerad"

Saya dan istri hanya tersenyum.

Bagi kami, apa pun makanannya nanti, rasanya pasti akan lebih nikmat setelah menghabiskan pagi dengan perjalanan sederhana seperti ini.

Perjalanan hari itu kembali mengingatkan kami bahwa kebahagiaan tidak selalu harus dicari di tempat yang jauh atau mahal. Kadang cukup berangkat tanpa rencana yang rumit, mengikuti ajakan pasangan, menikmati alam yang masih sederhana, lalu pulang membawa cerita. Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa jauh kita melangkah, tetapi seberapa hangat kebersamaan yang kita rasakan di setiap perjalanan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6