Video Pilihan

Jalan-Jalan ke Kalbar: yang Sudah Biasa, yang Baru Penasaran!

11 Juli 2026   16:30 Diperbarui: 11 Juli 2026   15:12 84 11 6


Selamat Soe semuanya! Kalau biasanya saya melangkah ke Kalimantan Barat untuk urusan kerja, kali ini perjalanannya beda banget. Sudah pensiun, badan lebih santai, dan yang paling penting: ada istri tersayang di samping saya. Kalau saya sudah sering kali ke Kalimantan Barat, karena pernah menjadi wilayah kerja saya sebelum pensiun dulu, sedang istri, dia justru baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Pontianak dan sekitarnya. Jadi misi utamanya jelas: bikin dia jatuh cinta dengan keindahan dan keunikan tempat yang dulu pernah jadi "rumah kedua" saya.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Begitu turun dari pesawat di bandara, saya langsung menghubungi teman lama. Alhamdulillah dia baik hati sekali, meminjamkan kendaraan sekaligus sopirnya buat kami selama di sini. Bahkan lebih manis lagi, di dalam mobil sudah tersedia camilan khas Pontianak! Rasanya seperti disambut keluarga sendiri. Dia pun berpesan: "Kalau malam masih di kota, nanti saya dan istri traktir makan, jangan sungkan ya!" Wah, keramahan orang Kalbar memang nggak pernah berubah, bikin hati hangat.

Tugu Khatulistiwa: Titik Unik di Dunia

Tujuan pertama kami arahkan ke Tugu Khatulistiwa, atau yang sering disebut juga Tugu 0 KM. Ini bukan tugu biasa, lho! Tugu ini menandai garis khatulistiwa yang membelah bumi menjadi belahan utara dan selatan. Yang paling seru dan unik: setahun ada dua momen di mana matahari tepat berada di atas kepala, sehingga orang yang berdiri di titik ini tidak memiliki bayangan sama sekali! Saya ceritakan ini pada istri sambil dia melongo takjub. Beruntungnya saat kami tiba, ada pagelaran tari tradisional yang sedang berlangsung. Kami duduk sebentar menikmati irama dan gerakannya - suasananya makin hidup dan berwarna.

"Koleksi : Misbah Moerad"

Rumah Bentang: Rumah Adat Suku Dayak

Perjalanan dilanjutkan ke Rumah Bentang, rumah adat khas suku Dayak. Kalau buat saya dan istri, ini bukan hal yang asing lagi. Saya sendiri berasal dari Samarinda, sedangkan istri dulu sempat berkuliah di Universitas Mulawarman. Jadi tentang kehidupan, budaya, dan tempat tinggal suku Dayak, kami sudah cukup sering melihat dan mendengarnya. Tapi tetap saja, melihatnya lagi di sini tetap terasa istimewa - bentuknya yang panjang, kokoh, dan penuh ukiran khas selalu memancarkan kearifan lokal yang tak lekang waktu.

Makan Siang di Tepi Sungai

Belum sempat melanjutkan rencana menuju Singkawang dan perbatasan Entikong, telepon berdering. Teman saya meminta kami mampir sebentar untuk makan siang di sebuah restoran yang terletak persis di pinggir sungai. Pemandangannya adem, anginnya sejuk, dan makanannya pun lezat. Rasanya sayang kalau dilewatkan - momen kumpul-kumpul sambil mengobrol kenangan lama tak ternilai harganya.

"Koleksi : Misbah Moerad"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2