Selamat Soe semuanya! Kalau biasanya saya melangkah ke Kalimantan Barat untuk urusan kerja, kali ini perjalanannya beda banget. Sudah pensiun, badan lebih santai, dan yang paling penting: ada istri tersayang di samping saya. Kalau saya sudah sering kali ke Kalimantan Barat, karena pernah menjadi wilayah kerja saya sebelum pensiun dulu, sedang istri, dia justru baru pertama kali menginjakkan kaki di tanah Pontianak dan sekitarnya. Jadi misi utamanya jelas: bikin dia jatuh cinta dengan keindahan dan keunikan tempat yang dulu pernah jadi "rumah kedua" saya.

Begitu turun dari pesawat di bandara, saya langsung menghubungi teman lama. Alhamdulillah dia baik hati sekali, meminjamkan kendaraan sekaligus sopirnya buat kami selama di sini. Bahkan lebih manis lagi, di dalam mobil sudah tersedia camilan khas Pontianak! Rasanya seperti disambut keluarga sendiri. Dia pun berpesan: "Kalau malam masih di kota, nanti saya dan istri traktir makan, jangan sungkan ya!" Wah, keramahan orang Kalbar memang nggak pernah berubah, bikin hati hangat.
Tugu Khatulistiwa: Titik Unik di Dunia
Tujuan pertama kami arahkan ke Tugu Khatulistiwa, atau yang sering disebut juga Tugu 0 KM. Ini bukan tugu biasa, lho! Tugu ini menandai garis khatulistiwa yang membelah bumi menjadi belahan utara dan selatan. Yang paling seru dan unik: setahun ada dua momen di mana matahari tepat berada di atas kepala, sehingga orang yang berdiri di titik ini tidak memiliki bayangan sama sekali! Saya ceritakan ini pada istri sambil dia melongo takjub. Beruntungnya saat kami tiba, ada pagelaran tari tradisional yang sedang berlangsung. Kami duduk sebentar menikmati irama dan gerakannya - suasananya makin hidup dan berwarna.

Rumah Bentang: Rumah Adat Suku Dayak
Perjalanan dilanjutkan ke Rumah Bentang, rumah adat khas suku Dayak. Kalau buat saya dan istri, ini bukan hal yang asing lagi. Saya sendiri berasal dari Samarinda, sedangkan istri dulu sempat berkuliah di Universitas Mulawarman. Jadi tentang kehidupan, budaya, dan tempat tinggal suku Dayak, kami sudah cukup sering melihat dan mendengarnya. Tapi tetap saja, melihatnya lagi di sini tetap terasa istimewa - bentuknya yang panjang, kokoh, dan penuh ukiran khas selalu memancarkan kearifan lokal yang tak lekang waktu.
Makan Siang di Tepi Sungai
Belum sempat melanjutkan rencana menuju Singkawang dan perbatasan Entikong, telepon berdering. Teman saya meminta kami mampir sebentar untuk makan siang di sebuah restoran yang terletak persis di pinggir sungai. Pemandangannya adem, anginnya sejuk, dan makanannya pun lezat. Rasanya sayang kalau dilewatkan - momen kumpul-kumpul sambil mengobrol kenangan lama tak ternilai harganya.

Istana Kadariah: Saksi Sejarah dan Lambang Negara
Setelah perut kenyang, kami menuju Istana Kadariah. Ini adalah bekas istana Kesultanan Pontianak yang dibangun pada abad ke-18. Bangunannya memadukan gaya arsitektur Melayu, Tiongkok, dan Eropa yang terlihat megah namun tetap anggun. Tahukah Anda? Di sinilah sejarah lambang negara kita, Garuda Pancasila, sempat mendapatkan inspirasi dan penyempurnaan bentuknya sebelum ditetapkan secara resmi. Istana ini jadi saksi bisu perjalanan sejarah kesultanan hingga masa kemerdekaan Indonesia.
Museum Kalimantan Barat: Simpan Kisah Masa Lalu
Tak jauh dari sana, kami singgah ke Museum Kalimantan Barat. Di dalamnya tersimpan berbagai koleksi berharga: mulai dari alat-alat kehidupan tradisional, senjata, pakaian adat, hingga benda-benda peninggalan sejarah dan budaya dari berbagai suku yang mendiami Kalbar. Berjalan-jalan di sini rasanya seperti membuka buku sejarah hidup yang menceritakan bagaimana tanah ini tumbuh dan berkembang dari masa ke masa.

Berputar Kota dan Nikmati Kulinernya
Untuk hari pertama ini, kami putuskan cukup menjelajahi kawasan Pontianak saja. Sore harinya kami berkeliling kota, menikmati suasana jalanan yang ramai namun tetap santai, dan yang paling ditunggu-tunggu: mencicipi beragam makanan khasnya. Mulai dari bubur pedas, mie kepiting, hingga kue tradisional yang rasanya bikin ketagihan. Istri saya sampai bilang: "Kalau begini, nanti berat pulangnya, soalnya perutnya terus bertambah isinya!"
Penutup:
Begitulah kisah hari pertama kami di Kalbar. Bagi saya, ini seperti kembali ke rumah lama; bagi istri, ini adalah lembaran baru yang penuh kejutan dan kelezatan. Masih banyak tempat yang ingin kami kunjungi di hari-hari berikutnya, tapi untuk hari ini, hati sudah puas, perut kenyang, dan kenangan sudah tersimpan rapi.
Siapa tahu nanti kalian juga tertarik melipir ke sini - jaminan keramahan dan keindahannya sudah terjamin, cuma hati-hati saja, nanti ketagihan dan enggan pulang seperti saya!