Setiap kali saya dan istri liburan ke Jogja, kami punya tradisi unik: selalu mengandalkan tiga driver langganan. Kenapa harus tiga orang? Sederhana saja, karena mereka sering laris manis dipakai wisatawan lain. Karena kami sudah saking seringnya memakai jasa mereka, hubungan kami bukan lagi sebatas sopir dan tamu, melainkan sudah hangat layaknya keluarga sendiri.
Pagi itu, perjalanan kami ditemani oleh salah satu dari mereka, Pak Andi. Ritual wajib pertama kami tentu saja urusan perut. Tanpa pikir panjang, saya langsung meminta Pak Andi mengarahkan setir menuju Gudeg Sagan buat sarapan.
Begitu piring gudeg sudah bersih dan perut kenyang, saya sengaja tidak menentukan tujuan berikutnya. Saya langsung bilang ke Pak Andi, "Pak, hari ini saya ngikut Pak Andi saja yang menentukan tempat. Pokoknya kalau tempatnya sudah pernah saya kunjungi, kita cari alternatif lain."

Menuju Spot Riyadi yang Menentramkan
Pak Andi langsung tersenyum dan menyebut satu nama: Spot Riyadi. Karena penasaran, saya langsung bertanya apa yang menarik di sana.
Ternyata, Spot Riyadi merupakan destinasi wisata manis yang terletak di Dusun Dawangsari, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Sleman. Penamaannya sangat unik karena tempat ini memang memanfaatkan area halaman belakang rumah pribadi milik seorang warga setempat bernama Bapak Riyadi.
Akses jalannya tidaklah sulit, hanya perlu berkendara melewati area restoran Abhayagiri, bertemu pertigaan lalu belok kiri, dan tinggal mengikuti jalan aspal serta jalan beton lurus sampai ke ujung. Hebatnya lagi, tidak ada biaya tiket masuk yang mahal di sini, pengunjung hanya dipatok tarif parkir sebesar Rp2.000 saja! Tempat ini buka setiap hari dari pukul 06.00 hingga 20.00 WIB.
Ritual Kuliner Sebelum Sesi Foto
Begitu sampai di lokasi, mata kami langsung dimanjakan oleh panorama yang luar biasa indah. Tempat ini berada di atas perbukitan dan menjadi lokasi ideal bagi para pemburu sunset maupun sunrise. Dari halaman belakang ini, kita bisa menikmati lanskap megah Gunung Merapi, Candi Prambanan dan Candi Sojiwan dari kejauhan, serta hamparan hijau sawah yang sangat menentramkan jiwa.
Melihat keindahan itu, istri saya langsung bersemangat. Tapi uniknya, sebelum memulai ritual foto-foto estetik, dia justru langsung melipir masuk ke area dapur warung! Rupanya istri saya langsung memesan aneka camilan dan minuman segar untuk menemani santai kami, mulai dari pisang goreng hangat sampai kelapa muda utuh.

Kejutan Manis dari "Ular Besi"
Setelah pesanan siap, barulah sesi dokumentasi dimulai. Di sinilah keseruan utama terjadi. Saat kami sedang asyik bergantian mengambil foto, tiba-tiba terdengar suara klakson kereta api.
Tepat di jalur rel bawah perbukitan, sebuah kereta api melintas membelah hamparan sawah. Momen magis itu langsung kami abadikan melalui lensa kamera. Dari ketinggian Spot Riyadi, kereta api tersebut tampak berjalan meliuk-liuk kecil mirip mainan yang sangat estetik. Sungguh sebuah bonus keberuntungan yang membuat hasil foto kami jadi makin berkesan dan tiada duanya!
Bagi kami, tempat ini bukan sekadar objek wisata murah meriah, melainkan ruang sempurna untuk mengasah skill fotografi, menikmati kuliner sederhana, sekaligus menikmati keindahan Jogja dari sudut pandang yang berbeda.