Pulang dari Yogyakarta, melintas ke Jawa Tengah, sebelum menuju rumah di Bogor - kami menyempatkan diri berhenti sejenak di Cilacap. Bukan sekadar lewat, kami sekeluarga: saya, istri, dan ketiga anak kami, punya satu tujuan khusus: menjelajahi Benteng Pendem Karang Bolong di Pulau Nusakambangan. Benteng Pendem yang ada di kota Cilacap sendiri sudah pernah kami kunjungi, jadi kali ini penasaran ingin melihat benteng yang satu lagi, yang tersimpan di pulau yang terkenal itu.

Menyeberang dengan Gelombang yang Menantang
Kami menyewa perahu dari pelabuhan untuk menyeberang ke Nusakambangan. Hari itu laut tampak tidak bersahabat - gelombang cukup tinggi disertai angin yang bertiup kencang. Perahu terasa terombang-ambing, dan sesampainya di perairan pulau, kami bahkan tidak berani langsung turun, melainkan menunggu arahan dari pengemudi perahu. Dari jauh terlihat perahu-perahu lain yang juga membawa wisatawan ikut terguncang ombak, membuat rasa khawatir sedikit menyelimuti hati.
Dengan tenang saya meminta anak sulung saya menjaga dan mendampingi adik bungsunya, sementara istri bersama anak kedua bersiap turun lebih dulu. Saling menjaga dan saling membantu, akhirnya kami sekeluarga berhasil berpijak di daratan Nusakambangan dengan selamat.

Beristirahat dan Menemukan Pemandu
Sesampainya di tepi pantai, kami memutuskan menenangkan diri sejenak. Di sana ada deretan warung yang menjual makanan ringan, minuman segar, hingga berbagai cinderamata khas daerah. Kami duduk santai, menyeruput kopi hangat sambil melepas lelah dan menenangkan jantung yang masih berdebar karena perjalanan menyeberang tadi. Hanya menikmati hidangan sambil memandang pemandangan laut yang luas, sebelum melanjutkan petualangan.
Setelah merasa cukup tenang dan segar kembali, kami mencari pemandu wisata yang bisa menemani kami menuju Benteng Pendem Karang Bolong sekaligus menjelaskan sejarah dan kisah-kisahnya. Kami tidak ingin sekadar datang dan melihat bangunan saja, tapi ingin benar-benar memahami apa yang ada di balik benteng tua itu.
