Jakarta ultah, kami sekeluarga -- saya, istri, dan dua anak gadis tersayang-malah mutusin naik kereta api ke ibu kota. Niatnya sih mau merayakan kota Jakarta, tapi aslinya si bungsu lagi semangat 45 cari kebaya buat wisuda. Padahal ya, ampun... dari kampus Brawijaya jadwal wisuda keluar kapan aja belum jelas! Ini namanya sedia payung sebelum hujan, atau sedia kebaya sebelum mahasiswanya diwisuda. Yang penting gaya dulu, urusan wisuda belakangan!

Perut Kalap di Thamrin City: Pagi Padang, Siang Kalap Lagi
Turun stasiun Gondangdia, tujuan pertama langsung melipir ke Nasi Padang. Rasanya mantap luar biasa sampai bikin lupa daratan. Tapi, drama sebenarnya terjadi waktu kami sampai di Thamrin City buat cari kebaya.
Habis muter-muter kaki gempor, perut malah keroncongan lagi. Kami kan cuma berempat nih, tapi begitu lihat ragam makanan di food court Thamrin City yang menggiurkan, pesanan malah meluncur 6 porsi dengan menu beda-beda! Padahal baru beberapa jam lalu lambung baru disiksa kuah santan Padang. Suasana di sana agak sepi, cuma beberapa orang aja yang makan. Mungkin mereka heran lihat satu keluarga pesan makanan kayak orang kelaparan pasca karantina tiga bulan. Untung kursinya banyak, jadi kami bebas pilih mau duduk di mana sambil malu-malu kucing ngabisin piring keenam.

Sesi Narsis di Sky Deck Bundaran HI: Kenyang Bikin Lupa Terik Mentari
Puas jadi monster makanan di Thamrin City, kami jalan santai ke Bundaran HI. Nggak sah ke Jakarta kalau nggak pamer foto di atas Sky Deck Bundaran HI. Dengan perut buncit kekenyangan dan napas agak sengal-senging, kami bergaya di atas ketinggian. Terik Jakarta siang itu sangat menyengat, tapi kalah sepoi sama angin surga makanan yang baru aja kami telan bulat-bulat. Cekrek-cekrek sana-sini, gaya bebas biar keliatan elegan padahal aslinya lagi nahan kekenyangan supaya kancing celana nggak copot.
Blok M: Masjid di Atas, Bazar Korea-Malaysia di Bawah
Belum puas bikin dompet dan lambung berontak, petualangan berlanjut ke Blok M. Sampai sana, kewajiban dulu: sholat zuhur di lantai atas mal Blok M yang adem. Habis sujud, iman langsung diuji lagi sama bazar kuliner Korea dan Malaysia yang baunya semerbak manggil-manggil. Akhirnya ya... lidah khilaf lagi nyobain jajanan luar negeri. Padahal tadi pagi Padang, siang kalap di Thamrin City, sore masih diserbu menu ala drakor dan negeri jiran. Ini perut lambung apa tong sampah, masuk semua tanpa rem!