Saat gerimis mulai berubah jadi hujan yang lumayan deras, petugas yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Bukannya kaku atau formal, bapak penjaga ini justru menyapa kami dengan sangat ramah.
Melihat kami yang mulai kedinginan, si bapak dengan sigap mengambil beberapa potongan kayu kering, menatanya di tungku, dan menyalakan api. Suasana saung yang tadinya dingin seketika berubah jadi hangat. Tak lupa, beliau juga menyuguhkan kopi hangat untuk menemani obrolan kami.
Begini kira-kira keseruan obrolan kami pagi itu di sela suara rintik hujan:
"Wah, makasih banyak Pak kopinya. Hangat banget rasanya di cuaca kayak gini. Di Leuweung Bobojong ini biasanya emang sering ramai buat camping ya, Pak?"
"Sama-sama, Kang, silakan diminum biar badannya hangat. Iya betul, alhamdulillah kalau weekend atau hari libur sering penuh. Kebanyakan anak-anak sekolah buat acara pramuka atau LDKS. Terus banyak juga komunitas pendaki yang jadikan tempat ini basecamp sebelum naik lebih atas." Katanya
Istri saya ikut nimbrung "Semalam kami lihat di Instagram emang seru banget kegiatannya, Pak. Makanya langsung nekat ke sini subuh-subuh. Selain camping, biasanya ada kegiatan apa lagi di sini?"
Si Mamang menjawab "Wah, mainnya sudah medsos ya, haha. Di sini konsepnya emang desa wisata, Teh. Jadi selain menikmati alam, pengunjung bisa belajar budidaya tanaman lokal, ada jalur trekking, edukasi lingkungan, sampai kegiatan seni budaya warga lokal kalau lagi ada paket wisatanya."
"Oh, pantesan lengkap banget lingkungannya. Tapi kalau cuaca lagi hujan gini, jalurnya aman nggak Pak buat dijelajahi?" saya kembali bertanya
Kembali si mamang menjawab "Nah, kalau hujan deras begini mending ditahan dulu, Kang. Jalurnya tanah, jadi agak licin dan rawan kalau dipaksakan. Nikmati dulu saja kopinya di sini, santai dulu."

Plot Twist: Pasukan Jas Hujan yang Menyerah