Video Pilihan

Terpikat FYP Instagram Malam Hari

2 September 2026   05:26 Diperbarui: 2 September 2026   05:26 176 7 4


Semua ini bermula dari ritual scrolling Instagram sebelum tidur. Malam itu, mata saya dan istri tertuju pada beberapa postingan yang estetik. Ada rombongan pendaki yang menjadikan Desa Wisata Leuweung Bobojong di Bogor sebagai basecamp mereka. Di sela-sela itu, ada juga postingan anak-anak sekolah yang lagi asyik berkegiatan alam di sana. Kelihatannya seru dan asri banget. Tanpa pikir panjang, kami langsung bikin rencana dadakan: "Besok subuh kita meluncur!"

Begitu selesai sholat subuh, kami langsung bersiap. Udara pagi itu terasa sejuk banget, khas daerah Bogor, dan langit pun bersih tanpa tanda-tanda mau turun hujan. Sempurna, pikir kami.

Ekspektasi Cerah, Realita Mendung Tanpa Petugas

Namun, alam punya rencananya sendiri. Begitu roda kendaraan kami memasuki kawasan Leuweung Bobojong, langit yang tadinya bersih mendadak berubah muram. Cuaca mendung tebal langsung menyambut. Niat awal buat mendaki ringan atau sekadar menyusuri jalanan setapak terpaksa kami urungkan demi keselamatan.

Suasana di lokasi masih sangat sepi. Gerbangnya ada, tapi petugasnya belum kelihatan satu pun. Akhirnya, saya dan istri memutuskan untuk melipir dan duduk santai di salah satu saung kosong yang ada di sana, menikmati angin yang makin lama makin dingin.

"Koleksi: Misbah Moerad"

Pasukan Emak-Emak Jas Hujan vs Gerimis

Nggak berselang lama, kesunyian pecah oleh suara deru mesin. Ada tiga kendaraan yang datang membawa rombongan berjumlah lima orang: empat orang emak-emak tangguh dan satu orang pria. Dari gelagatnya, mereka ini tipe penikmat alam sejati yang pantang pulang sebelum basah.

Begitu gerimis mulai turun, alih-alih berteduh seperti kami, rombongan ini langsung sigap mengeluarkan jas hujan masing-masing. Dengan santainya, mereka tetap jalan menerobos gerimis dan masuk ke area wisata. Mantap betul mental emak-emak ini!

Hangatnya Obrolan di Depan Tungku Api

Saat gerimis mulai berubah jadi hujan yang lumayan deras, petugas yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Bukannya kaku atau formal, bapak penjaga ini justru menyapa kami dengan sangat ramah.

Melihat kami yang mulai kedinginan, si bapak dengan sigap mengambil beberapa potongan kayu kering, menatanya di tungku, dan menyalakan api. Suasana saung yang tadinya dingin seketika berubah jadi hangat. Tak lupa, beliau juga menyuguhkan kopi hangat untuk menemani obrolan kami.

Begini kira-kira keseruan obrolan kami pagi itu di sela suara rintik hujan:

"Wah, makasih banyak Pak kopinya. Hangat banget rasanya di cuaca kayak gini. Di Leuweung Bobojong ini biasanya emang sering ramai buat camping ya, Pak?"

"Sama-sama, Kang, silakan diminum biar badannya hangat. Iya betul, alhamdulillah kalau weekend atau hari libur sering penuh. Kebanyakan anak-anak sekolah buat acara pramuka atau LDKS. Terus banyak juga komunitas pendaki yang jadikan tempat ini basecamp sebelum naik lebih atas." Katanya

Istri saya ikut nimbrung  "Semalam kami lihat di Instagram emang seru banget kegiatannya, Pak. Makanya langsung nekat ke sini subuh-subuh. Selain camping, biasanya ada kegiatan apa lagi di sini?"

Si Mamang menjawab  "Wah, mainnya sudah medsos ya, haha. Di sini konsepnya emang desa wisata, Teh. Jadi selain menikmati alam, pengunjung bisa belajar budidaya tanaman lokal, ada jalur trekking, edukasi lingkungan, sampai kegiatan seni budaya warga lokal kalau lagi ada paket wisatanya."

"Oh, pantesan lengkap banget lingkungannya. Tapi kalau cuaca lagi hujan gini, jalurnya aman nggak Pak buat dijelajahi?" saya kembali bertanya

Kembali si mamang menjawab "Nah, kalau hujan deras begini mending ditahan dulu, Kang. Jalurnya tanah, jadi agak licin dan rawan kalau dipaksakan. Nikmati dulu saja kopinya di sini, santai dulu."

"Koleksi : Misbah Moerad"

Plot Twist: Pasukan Jas Hujan yang Menyerah

Lagi asyik-asyiknya kami ngobrol sambil memandangi kepulan asap dari tungku kayu, tiba-tiba rombongan lima orang yang pakai jas hujan tadi muncul kembali. Wajah mereka yang tadinya semangat berubah jadi sedikit pasrah.

"Aduh Pak, ampun! Licin banget di atas, nggak kuat jalannya. Kita pulang saja deh, takut kepleset," kata salah satu emak-emak sambil tertawa kecil sambil memeras jas hujannya.

Akhirnya, rombongan tersebut memutuskan untuk langsung balik kanan dan pulang. Sementara saya dan istri? Kami memilih untuk tetap bertahan di saung, melanjutkan obrolan santai dengan pak penjaga, menikmati aroma tanah basah, dan menghabiskan secangkir kopi hangat di depan tungku api.

Perjalanan kali ini mungkin nggak menghasilkan foto-foto estetik di puncak bukit seperti di Instagram, tapi kehangatan obrolan di tengah guyuran hujan Bogor pagi itu memberikan kesan tersendiri yang nggak kalah mahal harganya. 

Salam lestari!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3