Video Pilihan

Dulu Jalan Setapak, Sekarang Ada Jembatan Kaca

3 September 2026   05:40 Diperbarui: 3 September 2026   05:40 271 15 7


Kali Kedua Datang, Kali Ini Cuma Berdua Sama Istri!

Dulu, saat pertama kali kami datang ke tempat ini, ceritanya masih sangat berbeda.

Jalannya masih berupa jalan setapak, trekingnya pun masih penuh semak belukar. Bisa dibilang, kalau waktu itu ada yang bilang tempat ini suatu hari bakal viral dan punya jembatan kaca, mungkin saya akan menjawab,

"Ah... yang benar saja! Jalan saja masih harus tebak-tebakan sama semak!"

Tapi waktu itu saya, istri dan dua anak perempuan kami tetap semangat mendaki.

Namanya juga penasaran.

Apalagi dari atas, pemandangannya memang luar biasa indah. Walaupun saat itu belum dikelola dengan baik, keindahan alamnya sudah kelihatan. Sayangnya, destinasi ini dulu pengelolaannya diserahkan kepada para veteran setempat, sehingga fasilitasnya masih sangat sederhana.

Kami pun menikmati perjalanan dengan kondisi seadanya.

Jalan kaki...

Naik...

Berhenti...

Naik lagi...

Berhenti lagi...

Kalau anak-anak sudah mulai capek, bapaknya pura-pura kuat. Padahal dalam hati juga sudah ngomong,

"Ini kapan sampainya, ya?"

"Koleksi: Misbah Moerad"

Dari Jalan Setapak Jadi Destinasi Wisata

Waktu berjalan.

Beberapa tahun kemudian, kami melihat tempat ini mulai sering muncul di media sosial.

Waduh!

Kok berubah?

Yang dulu jalannya masih setapak, sekarang sudah jauh lebih tertata. Bahkan destinasi ini sudah dikelola dengan baik oleh kelurahan.

Jalurnya yang dulu masih berupa tanah dan semak belukar, sekarang sudah disemen dan dilengkapi anak tangga.

Dan yang paling bikin penasaran tentu saja...

JEMBATAN KACA!

Dari media sosial saja sudah kelihatan menawan.

Akhirnya kami bilang,

"Yuk, kita lihat langsung. Jangan cuma lihat di HP!"

Dan ternyata memang benar.

Sekarang tempat ini sudah jauh lebih nyaman untuk dikunjungi.

Walaupun begitu, jangan membayangkan naik ke atas seperti naik eskalator di mal, ya om dan tante...

Tetap saja harus jalan kaki dan naik tangga.

Bedanya, sekarang jalurnya sudah lebih aman dan tertata.

Yang Napasnya Senin-Kemis, Jangan Gengsi!

Nah, buat yang merasa usia sudah tidak muda lagi, jangan khawatir.

Pengelola menyediakan dua tempat istirahat di sepanjang jalur.

Jadi kalau mulai mengap-megap...

Kalau napas sudah Senin-Kemis...

Kalau jantung mulai ngajak diskusi...

ISTIRAHAT!

Jangan dipaksakan.

Tidak ada hadiah untuk siapa yang paling cepat sampai atas.

Justru menurut saya, perjalanan seperti ini lebih enak dinikmati santai.

Naik sedikit...

Berhenti...

Lihat pemandangan...

Foto...

Ngobrol...

Naik lagi...

Berhenti lagi...

Pokoknya jangan sampai baru setengah jalan sudah bilang,

"Saya pensiun dulu dari dunia trekking!"

"Koleksi: Misbah Moerad"

Sekarang Masuknya Pakai QRIS

Ada satu hal yang berbeda dibanding dulu.

Sekarang untuk masuk ke kawasan ini sudah menggunakan sistem pembayaran digital.

Tidak menerima uang cash.

Jadi sebelum berangkat, pastikan HP aman, baterai cukup, dan saldo tersedia.

HTM-nya Rp15.000 per orang.

Parkir Rp.5.000,- sepeda motor dan Rp.10.000,- mobil

Tinggal scan QRIS, beres.

Tidak perlu lagi bongkar dompet, mencari uang pas, atau bertanya,

"Ada kembaliannya nggak, Mbak?"

Zaman memang sudah berubah.

Dulu kami membawa uang tunai.

Sekarang yang dibawa bukan cuma uang...

tapi HP, power bank dan QRIS!

Sampai di Atas, Capeknya Terbayar

Setelah perjuangan naik dan menikmati perjalanan, sampailah kami di atas.

Dan ternyata...

Memang keren!

Pemandangan dari atas semakin menarik.

Tempatnya sudah jauh lebih tertata dibandingkan saat pertama kali kami datang.

Ada beberapa spot yang bisa dinikmati, dan tentu saja yang paling menarik perhatian kami adalah jembatan kaca.

Kalau dulu kami datang bersama anak-anak dan harus berjuang melewati jalan setapak dan semak belukar, kali kedua ini ceritanya berbeda.

Kali ini...

Cuma saya dan istri.

Anak-anak sudah punya kesibukan masing-masing.

Jadi kami berdua kembali ke tempat yang pernah kami datangi bertahun-tahun lalu.

Rasanya seperti bernostalgia.

Dulu kami datang sebagai keluarga dengan anak-anak yang masih kecil.

Sekarang kami datang berdua.

Jalannya sudah berubah.

Fasilitasnya sudah berubah.

Destinasinya sudah berubah.

Tapi ada satu yang masih sama...

istri saya masih mau diajak jalan!

Itu yang paling penting.

Akhirnya Berani Juga Menginjak Jembatan Kaca

Nah, tibalah saatnya mencoba jembatan kaca.

Kalau melihat dari bawah sih keren.

Begitu sudah berdiri di atas kaca...

Mulai deh pikiran macam-macam.

"Ini kacanya kuat, kan?"

Padahal sudah pasti diperhitungkan dan dibuat untuk wisatawan.

Tapi namanya juga manusia.

Kaki sudah di atas kaca, mata malah sibuk melihat ke bawah.

Akhirnya saya bilang ke istri,

"Sudah... jangan lihat ke bawah!"

Istri menjawab,

"Lho, justru kita ke sini kan mau lihat ke bawah!"

Ya sudah...

Akhirnya kami menikmati saja.

Berdiri di atas jembatan kaca, menikmati pemandangan, mengambil foto, dan tentu saja membawa pulang pengalaman baru.

Dari Kenangan Lama Menjadi Destinasi Baru

Perjalanan kali kedua ini membuat saya kembali teringat kedatangan kami yang pertama.

Dulu, kami harus melewati jalan setapak dan semak belukar demi melihat keindahan dari atas.

Sekarang, jalannya sudah jauh lebih nyaman, tersedia anak tangga, tempat istirahat, berbagai spot menikmati pemandangan, restoran, dan tentu saja jembatan kaca yang menjadi daya tarik tersendiri.

Begitulah tempat wisata.

Kadang kita mengenalnya ketika masih sederhana, lalu beberapa tahun kemudian kembali dan dibuat terkejut oleh perubahannya.

Yang dulu hanya diketahui oleh segelintir orang, sekarang bisa menjadi destinasi viral karena media sosial.

Dan bagi kami, kunjungan kedua ini bukan hanya soal melihat jembatan kaca.

Ini juga soal mengunjungi kembali sebuah tempat yang menyimpan kenangan.

Dulu bersama anak-anak.

Sekarang berdua dengan istri.

Dulu jalan setapak.

Sekarang sudah ada anak tangga.

Dulu masih semak belukar.

Sekarang sudah tertata.

Dan dulu kami hanya bisa melihat keindahan dari atas...

Sekarang kami bisa berdiri di atas jembatan kaca sambil bilang:

"Ternyata kita masih kuat juga ya, Mah!"

Walaupun setelah turun...

lutut kami mungkin punya pendapat yang berbeda!

Yang jelas, perjalanan kali kedua ini kembali mengingatkan kami:

Tempat boleh berubah, zaman boleh berubah, usia juga terus bertambah... tetapi semangat untuk menikmati perjalanan bersama orang tercinta jangan sampai ikut pensiun.

Salam dari perjalanan kami.

Saya dan istri, masih terus jalan... selama lutut masih mau diajak kompromi.

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12