A Day in My Life
Telaga Biru Cawene - Leuwi Orok
Ketika Air Biru Menggoda, Baju Mandi Malah Ketinggalan
Ada satu hal yang saya pelajari dari perjalanan bersama istri:
Kalau sudah melihat tempat yang airnya bening dan biru menggoda, kadang rencana bisa berubah dalam hitungan detik.
Awalnya niat kami sederhana saja.
Datang, melihat-lihat, duduk menikmati suasana, foto-foto sedikit, lalu pulang.
Tapi ternyata... alam punya rencana lain.
Hari itu saya dan istri berkesempatan menikmati salah satu wisata tersembunyi di Kabupaten Bogor, Telaga Biru Cawene, yang oleh sebagian orang juga dikenal sebagai Leuwi Orok.
Lokasinya berada di Kampung Ciawitali, Desa Gunung Picung, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor.
Namanya mungkin belum setenar tempat wisata lainnya di Bogor.
Justru itu yang menarik.
Tempat seperti ini biasanya masih menawarkan sesuatu yang sekarang semakin sulit ditemukan:
suasana alami, udara segar dan ketenangan.
Jauh dari suara kendaraan yang bersahut-sahutan.
Jauh dari keramaian.
Yang terdengar lebih banyak adalah suara alam.
Dan tentu saja... suara saya yang mulai ngos-ngosan naik turun tangga.
Menuju Telaga Biru Cawene
Perjalanan menuju lokasi bukan perjalanan yang bisa dilakukan sambil rebahan.
Ada anak tangga yang harus dilewati, jalan yang cukup menantang, dan beberapa bagian yang harus lebih berhati-hati karena melewati bebatuan.
Buat yang senang hiking, justru perjalanan seperti ini menjadi bagian dari kesenangan.
Karena wisata alam itu kadang bukan hanya soal tempat yang kita tuju.
Perjalanannya pun menjadi cerita.
Apalagi kalau perjalanannya bersama istri.
Saya di depan.
Istri di belakang.
Sesekali menoleh...
"Masih kuat?"
Jawabannya tentu saja:
"Masih..."
Padahal napas sudah mulai berbunyi seperti motor tua yang belum servis.
Tapi begitu sampai dan melihat telaga dengan air berwarna biru yang begitu menarik...
Rasa capek langsung terbayar.

Air Biru yang Menggoda
Telaga Biru Cawene benar-benar punya daya tarik tersendiri.
Airnya terlihat biru dan jernih, dikelilingi hijaunya pepohonan dan suasana hutan tropis yang masih terasa alami.
Melihat air seperti itu, rasanya ingin langsung nyebur.
Masalahnya...
Saya dan istri tidak membawa pakaian mandi.
Namanya juga orang tua, harusnya sudah bijaksana.
Tapi ternyata...
Kalau sudah melihat air biru seperti ini, kebijaksanaan bisa hilang sementara.
Akhirnya saya tetap saja bermain air.
Tidak perlu ditanya bagaimana caranya.
Yang jelas...
pulangnya basah-basahan.
Kadang memang begitulah perjalanan.
Kita berangkat dengan rencana.
Tetapi ketika sampai di tempat tujuan, rencana bisa berubah mengikuti suasana hati.
Dan saya kira itu yang membuat perjalanan menjadi menyenangkan.
Leuwi Orok yang Bikin Betah
Telaga atau leuwi ini bukan hanya menawarkan air yang indah.
Lingkungan sekitarnya juga masih terasa asri.
Pepohonan hijau, udara segar, suara air dan suasana yang tenang membuat tempat ini cocok untuk mereka yang ingin sejenak melarikan diri dari hiruk-pikuk kehidupan kota.
Di sekitar curug juga ada area untuk bersantai.
Duduk saja.
Menikmati pemandangan.
Ngobrol dengan pasangan.
Atau sekadar diam sambil memandangi air.
Kadang kita memang tidak membutuhkan tempat yang mewah untuk merasa bahagia.
Cukup tempat yang tenang.
Ada air.
Ada udara segar.
Ada kopi kalau memungkinkan.
Dan yang paling penting...
ada istri yang mau diajak jalan.
Kalau istrinya tidak mau, telaga biru pun rasanya jadi kurang biru.

Warung Kecil dan Ibu yang Ramah
Di sekitar lokasi ada warung yang menjadi salah satu bagian menarik dari perjalanan kami.
Ibu pemilik warung sangat ramah.
Kalau ada pengunjung yang memesan makanan atau minuman, anaknya siap mengantarkan pesanan.
Tentu saja jangan membayangkan jalannya seperti jalan di mal.
Untuk mengantarkan pesanan, mereka harus berjalan melewati jalan yang cukup menantang, termasuk bebatuan.
Saya sampai berpikir...
"Wah, ternyata pelayanan antar di sini benar-benar delivery sampai ke alam liar."
Tapi justru keramahan seperti inilah yang membuat sebuah tempat terasa lebih hidup.
Bukan hanya alamnya yang kita ingat.
Tetapi juga orang-orang yang kita temui di perjalanan.
Camping di Tengah Alam
Menurut cerita si Ibu warung, sesekali ada juga pengunjung yang memilih camping di sekitar lokasi.
Dan kalau ada yang camping, biasanya Ibu, anaknya atau suaminya juga ikut berada di sana.
Selain untuk melayani pesanan para pengunjung, mereka sekaligus ikut menjaga keamanan di sekitar area tersebut pada malam hari.
Saya membayangkan suasananya.
Malam hari.
Hutan.
Suara air.
Tenda.
Udara dingin.
Langit malam.
Wah...
Ini baru camping.
Bukan camping yang malam-malam masih terdengar suara motor, klakson dan orang jualan cilok.
Tapi tentu saja, bagi yang ingin camping di tempat seperti ini, tetap harus memperhatikan aturan setempat, kondisi cuaca dan keselamatan.
Karena menikmati alam itu harus bersama-sama dengan menjaga alam.
Alam Tidak Perlu Banyak Polesan
Telaga Biru Cawene atau Leuwi Orok mengingatkan saya bahwa ternyata masih banyak tempat indah di sekitar Bogor yang belum terlalu ramai dikenal.
Tempat seperti ini tidak membutuhkan banyak polesan.
Tidak perlu lampu warna-warni.
Tidak perlu bangunan megah.
Tidak perlu musik keras.
Cukup air yang jernih, pepohonan yang hijau, udara yang segar dan suara alam.
Dan tentu saja...
orang yang kita sayangi di sebelah kita.
Buat saya dan istri, perjalanan ke Telaga Biru Cawene bukan sekadar mengunjungi sebuah curug.
Ini tentang menikmati perjalanan.
Tentang berjalan bersama.
Tentang sesekali capek bersama.
Tentang saling menunggu ketika salah satu mulai ngos-ngosan.
Dan tentang menemukan kebahagiaan sederhana di tempat yang mungkin belum banyak diketahui orang.
Oh iya...
Ada satu kesimpulan penting dari perjalanan kali ini.

Kalau pergi ke curug, jangan lupa bawa pakaian mandi.
Karena kalau tidak bawa...
bisa-bisa pulangnya bukan cuma membawa kenangan.
Tapi juga membawa baju basah.
Salam dari kami...
Dua orang yang semakin tua, tapi rupanya masih suka bermain air.
Karena mungkin benar kata orang:
Usia boleh bertambah,
lutut boleh mulai protes,
napas boleh ngos-ngosan,
tapi rasa ingin menikmati hidup jangan sampai pensiun.
Sampai ketemu di perjalanan berikutnya.
Salam dari Saung APA, 620 MDPL.
Tetap sehat.
Tetap bahagia.
Dan kalau ada air biru menggoda...
jangan lupa bawa pakaian mandi!