WAKTU akan terlalu singkat apabila menjalani hari dengan segudang aktivitas, lalu dengan apa mengisinya agar terasa panjang dan mengesankan.
Di sela kesibukan sebagai abdi negara, saya menyempatkan untuk memancing udang di sebuah sungai di kediaman saya yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara. Salah satu hobi yang sampai saat ini masih saya rayakan sebagai bentuk katarsis. Karena hobi ini memiliki seni yang tinggi menurutku.
Saya sering mendengar ada yang bertanya demikian, kenapa dan kenapa, kalau kita pergi ke pasar tradisional berbagai ikan dan udang bisa kita beli sekejap mata. Kenapa harus memancing berjam-jam cuma dapat satu atau dua ekor saja.
Ini bukan faktor mampu membeli atau tidak. Tapi ini faktor kepuasan batin yang harus dirayakan sebagaimana mestinya. Mungkin seperti istri yang mengidam mau minta belikan mangga muda lalu tidak diindahkan. Apakah kesal atau biasa-biasa saja? Saya mencoba untuk menjawabnya, karena saya sebagai Ayah dua anak merasakan hal itu, pernah satu waktu istri mengidam anak pertama mau minta belikan Coto Makassar tapi belinya di Samarinda, secara kan jarak antara rumah ke Kota Samarinda menempuh jarak lebih kurang 30 kilometer. Apa mau dikata ya kan, saya membawa bumil ke Samarinda selepas sholat magrib. Itu namanya effort sebagai seorang pemimpin rumah tangga.
Nah, saya kira analogi yang menurut orang fakta atau mitos, dapat membuka kerangka berpikir untuk memahami hobi seseorang. Jadi, mari membebaskan kegiatan hal positif seperti memancing bisa sebagai alternatif hobi yang harus didukung dan diapresiasi.
Kan ada hobi yang lain, kenapa mesti memancing?
Menurut saya sebagai orang yang awam, memancing udang adalah refleksi diri untuk vakum sejenak dari hal-hal yang menyibukkan, mencoba memperlambat putaran jam dinding agar terasa aktivitas positifnya.
Penting juga untuk diketahui, memancing itu pembentukan karakter sabar pada diri seseorang. Bagaimana tidak kesabaran seorang pemancing yang berjam-jam menunggu tarikannya tentu upaya sabatlah untuk mendapatkan hasil pancingannya. Apalagi memancing udang itu adalah seni yang tinggi, karena tidak langsung ditarik cepat melainkan diayunkan joran tersebut dengan gaya yang slowmotion. Unik bukan, apakah kalian mau memancing udang juga?
Sejalan dengan Hadis Nabi terkait pembahasan tentang sabar:
Sabar adalah sebagian dari iman - HR. Abu Nu'aim dan Al Hakim
Inilah menariknya korelasi memancing dengan upaya sabar untuk menunggu tarikan udang di sungai. Sungguh menarik untuk dinikmati dalam proses mendapatkan udang galah, ya udang galah itu yang capitnya biru. Kalau di daerah saya satu kilo udang galah itu mencapai Rp 150.000, lumayan mahal bukan. Dengan harga yang signifikan tentu bisa saja membelinya, tapi bukan perkara itu yang saya cari melainkan sensasi mengayun joran menggunakan reel udang. Ajib!