Opa Jappy Official
Opa Jappy Official Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Video, Puisi, dan Artikel: Not Lost Hope

19 Januari 2026   05:47 Diperbarui: 19 Januari 2026   05:47 66 1 1

Miniatur Indonesia | Opa Jappy 
Miniatur Indonesia | Opa Jappy 

Jakarta is not just a name, a place, or a city.
Jakarta is a miniature of Indonesia.
There, brilliance, pleasure, and pride reside.
There, too, are people filled with tears of sorrow, suffering, oppression, and the forgotten.

Jakarta leaps further and further away; leaving other fragments behind.
Skyscrapers defiantly challenge the clouds with arrogance.
But beneath their feet, cardboard boxes and scrap wood from property packaging become shelters,
Protecting souls from dust, heat, rain, and the cold of the night.

From within those shelters, prayers of tireless hope are whispered;
Though perhaps unheard by God, for He is too busy listening to other screams.

But ....

They have not lost hope.
They remain in the alleys of struggle.
They faithfully gaze Upward, waiting for the robes of justice and the blankets of restoration to descend.

Is there an ear out there, listening?
Is there an ear in here, listening?


Jakarta, tak sekedar nama, tempat, dan kota.
Jakarta adalah miniatur Indonesia.
Di sana ada gemerlapan, kesenangan, kebanggaan.
Di sana juga ada orang-orang penuh airmata kesedihan, penderitaan, penindasan, dan terlupakan.

Jakarta semakin melompat jauh; meninggalkan kepingan-kepingan lainnya.
Gedung-gedung pencakar langit menantang awan dengan angkuh
Tapi di bawah kakinya, kardus-kardus serta kayu-kayu bekas pembungkus properti jadi ruang perteduhan,
Melindungi diri dari debu, panas, hujan, dan kedinginan malam.

Dari dalam perlindungan itu, terselip doa-doa harapan tanpa lelah; walau mungkin tak didengar Tuhan, karena Ia terlalu sibuk mendengar jeritan yang lain.

Tapi ....

Mereka tak kehilangan pengharapan.
Mereka tetap ada di gang perjuangan.
Mereka setia menatap ke Atas agar turun pakaian keadilan dan selimut perbaikan.

Adakah telinga di sana, yang mendengar.
Adakah telinga di sini, yang mendengar.

They have not lost hope.
They remain in the alleys of struggle.
They faithfully gaze Upward, waiting for the robes of justice and the blankets of restoration to descend.

Is there an ear out there, listening?
Is there an ear in here, listening?

By Opa Jappy

Potret Miniatur Indonesia dalam Kontradiksi

Jakarta bukan sekadar titik koordinat di peta. Melalui "Jakarta de Poesi " mengingatkan semua bahwa Jakarta adalah organisme yang hidup dalam kontradiksi tajam. Sebagai "Miniatur Indonesia," Jakarta merangkum segalanya, dari puncak kemewahan hingga palung kemiskinan terdalam.

Fenomena "lompatan jauh." Jakarta tidak lagi berjalan atau merangkak; ia melompat menuju modernitas. Namun, lompatan besar itu menyisakan kepingan yang tertinggal. Di celah gedung-gedung yang "menantang awan dengan angkuh", terdapat realitas kontras kardus bekas pembungkus properti mewah justru menjadi dinding pelindung bagi mereka yang terpinggirkan.

Antrian Jeritan, Satir Teologis

"Jakarta de Poeisi" menyentuh ranah spiritual, bahkan menguncan kesadaran iman banyak orang. Bahwa "...mungkin tak didengar Tuhan, karena Ia terlalu sibuk mendengar jeritan yang lain" bukan sekadar metafora, melainkan satir teologis di atas rata-rata kritik sosial biasa.

Diksi itu menggambarkan betapa masif dan berlapisnya penderitaan di Jakarta. Ada kesadaran kolektif yang pedih, bahwa di balik penderitaan seseorang, masih ada orang lain yang jeritannya lebih menyayat. Kalimat ini bukan berarti hilangnya iman, melainkan cara untuk berteriak bahwa volume ketidakadilan sudah melampaui ambang batas hingga "telinga langit" pun seolah penuh dengan antrean doa yang tak kunjung usai.

Masih Ada Gang Perjuangan

Meski penuh kepahitan, "Jakarta de Poeisi" tidak berakhir dengan keputusasaan; yaitu  ada pemberian martabat pada mereka yang kalah secara ekonomi tapi mentalnya menang. Melalui frasa "Gang Perjuangan," kaum marginal digambarkan bukan sebagai objek yang hanya bisa dikasihani, melainkan subjek teguh bertahan.

Mereka tetap menatap ke atas, menantikan "pakaian keadilan" dan "selimut perbaikan". Penggunaan simbol sandang ini menekankan bahwa keadilan dan perbaikan nasib bukan lagi konsep hukum yang abstrak, melainkan kebutuhan primer sangat mendesak untuk menutupi harga diri serta melindungi nyawa.

Menggugat Telinga Sehat yang Tuli

Pertanyaan retoris yang membelah tanggung jawab: "Adakah telinga di sana... Adakah telinga di sini?"
"Di sana" adalah gugatan kepada pemangku kebijakan, mereka yang memegang kemudi atas lompatan-lompatan kota. Sementara "Di sini" adalah cermin untuk semua, masyarakat yang menjadi penonton bisu di tengah gemerlapnya kota.

Jakarta tidak butuh lebih banyak mata yang hanya sekadar melihat, tapi membutuhkan lebih banyak telinga bersedia mendengar---sebelum jeritan penderitaan itu benar-benar menenggelamkan kemanusiaan.

Pemegang Hak Cipta (Vocal, Musik, Video, Lyrics) Opa Jappy, WA +62 81 81 26 858