Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Between the steam of coffee and the remnants of a dream,
I see the nation preening itself.
Not with the powder of luxury,
But with promises being sown once more.
Ask not when the harvest comes,
If compassion has yet to be unraveled.
Simply guard your heart, keep it pure,
For tomorrow belongs to those who dare to dream.
Di antara uap kopi dan sisa mimpi,
Aku melihat negeri sedang bersolek diri.
Bukan dengan bedak kemewahan,
Tapi dengan janji-janji yang kembali disemaikan.
Jangan tanya kapan menuai,
Jika kasih pun belum sempat terurai.
Cukup jaga hati, tetaplah murni,
Sebab esok adalah milik mereka yang berani bermimpi.
Di atas panggung politik kontemporer, citra lebih berharga daripada realitas. Itulah satir pada "Between the Steam of Coffee," Politisi membentuk Era Negeri sedang "bersolek".
Namun, jika membedah lapisan bedak tersebut, apa yang sebenarnya ditemukan? Apakah transformasi substansial, atau sekadar upaya menutupi kerutan kegagalan dengan gincu retorika?
Dengan pelan tapi pasti, Rakyat Negeri Tercinta digiring, bahkan berbaris rapi, dan dijerumuskan ke dalam "Jurang Politik Kosmetik dan Estetika Semu:" "Aku melihat negeri sedang bersolek diri / Bukan dengan bedak kemewahan / Tapi dengan janji-janji yang kembali disemaikan, (Opa Jappy).
Rakyat dibuat terpesona di Ruang Digital dan Dunia Nyata, pembangunan fisik yang megah sering kali dijadikan "bedak" untuk menutupi rapuhnya indeks transparansi, pengabaian hak-hak sipil, intoleransi, KKN, kekecewaan di ruang publik, dan lain sebagainya0.
Janji-janji politik disemaikan layaknya benih musiman; ia muncul dengan warna-warni indah setiap kali kontestasi kekuasaan mendekat, namun dibiarkan layu begitu kursi empuk kekuasaannya berhasil diduduki. Inilah estetika semu---pembangunan yang tampak indah di permukaan, namun kering jiwa dan esensi.
Krisis Empati, Menagih Janji yang Tak Terurai. Kritik yang paling menghujam pada "Between the Steam of Coffee," terletak pada gugatan sang penyair mengenai "kasih" yang terabaikan, "Jangan tanya kapan menuai / Jika kasih pun belum sempat terurai."
Kasih tak ada pada Kamus, Orasi, Narasi, Aksi-aksi Politik; namun jika dipaksa masuk, maka "kasih" adalah metafora dari empati dan keberpihakan tulus kepada rakyat. Kebijakan publik yang lahir tanpa "kasih" hanya menjadi angka-angka statistik yang dingin. Pertumbuhan ekonomi mungkin dilaporkan naik, namun jika jurang ketimpangan tetap menganga, maka "panen" yang dijanjikan hanyalah milik segelintir elit.
Tanpa komitmen moral untuk benar-benar memanusiakan warga negara, rakyat hanya menjadi rakyat sebagai penonton di tanahnya sendiri, menanti panen yang tak kunjung tiba.
Menjaga Kemurnian dan Perlawanan Moral. Pada "Between the Steam of Coffee," juga memberi pesan bersifat Stoik sekaligus revolusioner. Di tengah polusi janji-janji palsu, rakyat diminta untuk, "Cukup jaga hati, tetaplah murni" Itu bukan seruan agar bersikap apatis. Sebaliknya, bentuk perlawanan moral.
Menjaga hati tetap murni berarti menolak dipolitisasi oleh kebencian, tetap kritis terhadap fanatisme buta, dan menjaga integritas nalar di tengah manipulasi informasi. Suatu pengingat bahwa kedaulatan sejati seorang warga negara dimulai dari kejernihan nuraninya sendiri.
Esok Milik Mereka yang Berani. Harapan bersama adalah politik masa depan, tidak boleh lagi hanya bergantung pada mereka yang mahir bersolek dengan kata-kata. Masa depan adalah milik mereka yang "berani bermimpi"---bukan mimpi kosong yang dijual di baliho, melainkan visi besar dan lahir dari ketulusan hati.
Sudah saatnya berhenti terpukau pada "solekan" luar bangsa ini. Rakyat menuntut kepemimpinan yang berani mengurai kasih dalam setiap regulasi, bukan sekadar mahir menyemaikan janji namun gagal merawatnya hingga waktu panen tiba. Sebab pada akhirnya, esok hari hanya menjadi milik mereka yang menjaga kemurnian niat di atas kepentingan pribadi.
30 Januari 2026
Opa Jappy | Independen Research Academy Edu
Between the Steam of Coffee, Pemegang Hak Cipta (Vocal, Musik, Video, Lyrics) Opa Jappy, WA +62 81 81 26 858