Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Anda dan Saya pasti sudah sangat akrab dengan pemandangan sepasang kekasih yang berjalan sambil bergandengan tangan. Di mal, di taman, atau di trotoar jalan, genggaman jemari seolah menjadi proklamasi visual bahwa "kita sedang bersama."
Namun, baru-baru ini saya merenungkan frasa yang jauh lebih puitis sekaligus filosofis yaitu "Bergandengan Hati." Terdengar unik! Jika gandengan tangan itu sudah biasa terlihat; namun bagaimana caranya hati bisa saling bergandengan?
Lebih dari Sekadar Sentuhan Fisik. Bergandengan tangan adalah tindakan yang kasat mata. Siapa pun bisa melakukannya, bahkan tanpa perasaan yang mendalam sekalipun.
Tapi bergandengan hati? Ini adalah urusan "dapur" batin. Frasa ini menyiratkan koneksi batin yang sangat kuat bahkan sebelum melakukan manifestasi fisik. Ini adalah tentang dua jiwa yang sudah "klik" di frekuensi sama. Dalam hubungan yang dewasa, tangan mungkin sesekali terlepas karena kesibukan atau jarak, namun hati sudah bergandengan tidak akan pernah merasa kehilangan arah.
"Bergandengan Hati!" Penting kah? Naluri filosofis saya menyatakan bahwa ada tiga alasan mengapa "Bergandengan Hati" jauh lebih kuat daripada sekadar hubungan fisik.
Koneksi Tanpa Kata. Saat hati sudah bergandengan, Anda tidak butuh penjelasan panjang lebar untuk saling memahami. Ada empati yang mengalir otomatis.
Fondasi Kepercayaan. Bergandengan hati mustahil terjadi tanpa rasa percaya (trust). Ini adalah janji tak tertulis bahwa "aku menjagamu, dan kau menjagaku."
Visi yang Searah. Setelah hati bergandeng, barulah bisa "menyamakan langkah." Tanpa koneksi hati, langkah kaki dalam hubungan terasa berat dan dipaksakan.
Membangun Hubungan dari Dalam ke Luar. Banyak Orang sering terjebak pada hal-hal seremonial seperti Valentine atau hadiah mewah, namun lupa mengecek, "Apakah hati mereka masih bergandengan atau telah lama terputus."
Hubungan yang sehat dibangun dari dalam ke luar (inside-out). Ketika batin sudah terkoneksi, maka genggaman tangan di depan umum bukan lagi sekadar formalitas, melainkan pancaran dari kedamaian yang ada di dalam.
Sayangnya, banyak pasangan, mungkin termasuk Anda dan Saya, tak mencapai totalitas hubungan yang "Bergandengan Hati;" dan itu bermakna .... ... ... (Anda melanjutkan dan mengisi .... itu dengan pengalaman hidup serta kehidupanmu).
Karena ... ... ... itulah maka marilah berupaya mencapai ketenangan dan damai. Tangan mungkin akan menua dan melemah, kulit akan keriput, tapi hati yang saling bergandengan akan tetap membawa kehangatan yang sama seperti saat pertama kali bertemu.
Berjuang dalam hubungan, jangan hanya sibuk memastikan jemarinya selalu kau genggam. Pastikan hatinya benar-benar engkau gandeng dan genggam.
Genggaman Tangan (manifestasi fisik/eksternal), Bergandengan Hati (koneksi batin/internal). Genggaman Tangan, bersifat visual, temporal, dan bisa menjadi sekadar "proklamasi" atau formalitas sosial. Bergandengan Hati, bersifat esensial, tidak terlihat (invisible), namun permanen. Merupakan "urusan dapur batin," menekankan kualitas hubungan ditentukan oleh apa yang tidak terlihat oleh orang lain.

Affection holds more meaning than a mere embrace,
A grace that God has bestowed upon us.
On this Valentine's Day, we renew our love and devotion,
Until we reach an eternal togetherness.
On this Valentine's Day, we recommit ourselves,
Two hearts merging into one.
Two souls remaining as one.
Hand in heart,
Hand in hand,
Walking in step.
Together, we reach for a future filled with serenity and peace.
##
Kasih sayang lebih bermakna dari pelukan,
Kasih sayang telah Tuhan anugerahkan untuk kita.
Di Valentine ini, kita bersama perbaharui cinta dan kasih sayang itu.
Hingga mencapai kebersamaan yang abadi.
Di Valentine ini, kita Kembali berkomitmen,
Dua hati yang menyatu.
Dua jiwa tetap bersatu.
Bergandengan hati.
Menyatukan tangan.
Menyamakan langkah.
Bersama-bersama mencapai masa depan penuh ketenangan dan damai
Bogor, 3 Februari 2026
Opa Jappy | Pro Life Indonesia