Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Aku tak mau dikuburkan pada lereng bukit, karena engkau tak menemukanku ketika jasadku terbawa longsor.
Aku tak mau dikuburkan pada tanah datar, karena engkau akan habiskan banyak waktu di sampingku.
Aku tak mau dikuburkan pada tepian pantai, karena gelombang laut akan menghapus kenangan manisku padamu.
Aku tak mau dikuburkan pada pinggir sungai, karena engkau tak khan mendengar bisikanku dalam kesepian yang terganggu gemercik air.
Aku tak mau dikuburkan pada area padang pasir, karena ketika engkau menemuiku, akan kepanasan dan haus.
Aku tak mau dikuburkan pada pinggir jalan, karena engkau hanya mampir sesaat di sampingku ketika melangkah ke arah lain.
Aku tak mau dikuburkan pada Kompleks Pekuburan, karena ketika engkau ada di dekat, maka akan bertemu sosok-sosok tak bernyawa.
Aku tak mau dikuburkan pada lembah kelam dan gelap, karena disaat senja, engkau sulit menemukanku.
Aku tak mau dikuburkan di antara hiruk pikuk Metropolitan, karena semarak rumahku kalah dari gemerlapan cahaya Metropolis.
Aku tak mau dikuburkan di area belakang rumah, karena diriku akan terbelakang dalam ingatanmu.
Aku tak mau dikuburkan pada halaman depan rumah, karena akan membawa kesedihan panjang ketika engkau melihat aku terbaring sepi di bawah panas dan hujan.
Tapi.
Kuburkan aku di dalam hatimu, tanpa nisan; sehingga aku tetap ada di sana untuk selamanya.
Selamanya.
dan Selamanya.
Sang Aku, Opa Jappy
Kuburkan Aku Dalam Hati, Pemegang Hak Cipta (Musik, Video, Lyrics) Opa Jappy, WA +62 81 81 26 858
Di atas/dan dalam panggung fana, manusia sering sibuk memahat batu agar namanya tak luntur ditelan masa. Banyak orang membangun monumen, mencari petak tanah yang paling tenang, dan mendirikan nisan sebagai prasasti kehadiran.
Namun, melalui untaian "Kuburkan Aku Dalam Hati," ada warisan filosofi yang melampaui materi bahwa keabadian paling murni tidak ditemukan di atas tanah, melainkan dalaman jiwa.
Menolak Kefanaan. Deretan penolakan puitis lereng bukit, tepi pantai, hingga hiruk-pikuk metropolis; secara filosofis adalah kesadaran bahwa alam fisik adalah ruang rapuh. Longsor mengubur jasad, gelombang menghapus kenangan, dan gemerlap kota menenggelamkan bisikan sunyi.
Menolak simbol-simbol fisik tersebut, mengajarkan bahwa raga hanya selongsong yang kembali ke debu. Namun, cinta dan esensi diri adalah cahaya; tak terpenjara oleh batas-batas geografis yang rentan terhadap kerusakan waktu.
Hati, Ruang Suci Tanpa Jarak. Permintaan agar dikuburkan "di dalam hati, tanpa nisan;" Inilah letak keindahan yang paling sublim. Nisan adalah batas antara yang hidup dan mati. Dengan meminta "tanpa nisan," tersirat permintaan agar menghapus jarak tersebut. Sehingga terjadi penyatuan yang total---yang dicintai dan yang mencintai menjadi satu dalam ruang sakral bernama ingatan.
Hati, bukanlah sekadar organ biologis, melainkan ruang suci yang kedap terhadap hujan dan panas. Di sana, tidak ada sosok tak bernyawa; tapi hanya kehadiran yang terus berdenyut, sehingga bisikan tetap terdengar meski dalam kesepian yang paling sunyi.
Keheningan dan Keabadian. Pada konteks itulah menemukan cara menghadapi perpisahan tanpa harus terjebak dalam kesedihan yang meratap.
Duka "tak terlihat" di halaman rumah, karena pemandangan menyiksa mata bagi yang ditinggalkan. Sebaliknya, menjadi kekuatan internal; "ada dalam hati, "Selamanya" adalah janji spiritual. Dengan keyakinan bahwa selama masih ada satu detak jantung yang mengingat, selama itu pula eksistensi tak khan pernah menemui titik akhir. Kematian hanyalah cara pada Sang Aku agar pindah dari dunia bising ke dalam singgasana kasih yang tenang.
Menanam Jejak dalam Nafas. "Selamanya dalam Hati, menjadi saksi bisu meninggalkan warisan bukan berupa benda, melainkan cara pandang. Agar tidak takut pada liang lahat, karena telah membangun "rumah" yang layak di hati orang-orang yang dicintai, yaitu cinta dan kasih sayang.
"Kuburkan Aku Dalam Hati" adalah doa dan cinta yang bertransformasi menjadi abadi. Ia tidak tertinggal di belakang; tak terhalang di depan; ia ada di dalam. Serta terus menerus menjadi bagian dari setiap nafas, doa, setiap langkah mereka yang masih berjalan di Bumi; "Sebab yang benar-benar dicintai, takkan pernah sesungguhnya mati; mereka hanya sedang beristirahat dalam pelukan hangat ingatanmu."
Opa Jappy | Pro Life Indonesia