Opa Jappy Official
Opa Jappy Official Jurnalis

Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Video

Video, Puisi, dan Esai "Bergandengan Hati Dalam Keheningan"

12 Februari 2026   12:36 Diperbarui: 12 Februari 2026   12:36 84 2 0

Bergandengan Hati | Pro Life Indonesia
Bergandengan Hati | Pro Life Indonesia



Bergandengan Hati Dalam Keheningan

Aku tak butuh ribuan kata dan suara kebisingan menghibur tanpa makna.
Namun hati yang bergandengan dalam hening dan tanpa suara.

Di saat itu, ku mendengar suara hatimu yang jujur dan tulus.
Di saat itu, engkau mendengar suara hatiku penuh ketulusan dan kejujuran.

Dua jiwa telah menyatu menjadi satu;
Dua pribadi yang terlihat menjadi satu.
Satu karena cinta dan kasih sayang;
Satu menuju masa depan bersama.

Sama-sama bergandengan hati agar tak khan terhempas oleh goncangan badai hidup dan kehidupan.

Kami tak butuh ribuan kata dan suara kebisingan menghibur tanpa makna.
Kami hanya bergandengan dalam hening dan tanpa suara; tapi sama-sama bisa mendengar kehendak hati.

Kami tak butuh ribuan kata dan suara kebisingan menghibur tanpa makna.
Kami hanya bergandengan dalam hening dan tanpa suara; tapi sama-sama bisa mendengar kehendak hati.

(by Opa Jappy)

Public Service Announcement


Mendengar dalam Keheningan dan Kesunyian

Dalam kebisingan, komunikasi sering diukur dari keriuhan suara yang dihasilkan, walau hanya sedikit makna dan berguna. "Bergandengan Hati," hadir sebuah oase kontemplatif agar kembali ke esensi terdalam dari hubungan, yaitu keheningan.

"Bergandengan Hati," menegaskan bahwa kejujuran paling murni tidak ditemukan pada retorika rumit, melainkan dalam detak hati yang saling memahami tanpa perlu suara.
Keheningan bukan kekosongan, melainkan "cara mendengar tertinggi." Ketika dua orang mampu duduk bersama dalam diam tanpa merasa canggung, di sanalah ego mengalir luruh tanpa terhalang.

"Ku mendengar suara hatimu yang jujur" menyiratkan proses pendengaran metafisika---momen di mana frekuensi batin dua manusia selaras. Di sana, kejujuran tak  dibungkus dekorasi kata-kata yang mengaburkan makna, karena terlalu banyak diucapkan.

Penyatuan dua jiwa bukan sekadar romansa sentimental, melainkan transformasi eksistensial. "Aku" dan "Engkau" menjadi "Kami" menandakan komitmen kokoh agar secara bersama mampu menatap satu masa depan.

Cinta dan kasih sayang bertindak sebagai jangkar. Sehingga saat dunia luar menjadi kacau dan "badai hidup" menerpa; mereka yang memiliki ruang kedap suara di dalam batin, tetap bisa saling mendengar "kehendak hati" dan menemukan kekuatan untuk berdiri tegak.

Di situlah, Janji dalam Keheningan merajalela dan mampu menembus batas-batas. Sehingga tak menunggu semarak nuansa keramaian agar berjanji "Tetap Saling Mengasihi dan Mencintai."

Cukup dalam keheningan dan kesunyian, masing-masing mampu mendengar ketulusan, kejujuran, dan komitmen. Serta ada doa dan dukungan yang tak terputus.

Dengan itu, jika ada badai kehidupan datang mengguncang, sama-sama tidak mencari pelarian pada kebisingan dunia, melainkan kembali pada ruang ketenangan batin; tempat berlindung paling aman.


Bergandengan Hati, Pemegang Hak Cipta (Musik, Video, Lyrics) Opa Jappy, WA +62 81 81 26 858