Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Kepada Yth. Para Pemimpin Institusi Agama dan Tokoh Masyarakat di Seluruh Sumatera
Tanah Sumatera yang religius kini menghadapi ancaman senyap namun mematikan. Child grooming---taktik manipulasi sistematis oleh predator untuk menjerat anak-anak---telah menyusup ke ruang-ruang yang dianggap suci dan aman.
Suara dari mimbar-mimbar agama cenderung membisu saat jeritan korban mulai terdengar. Kesunyian institusi agama adalah "oksigen" bagi para predator.
Ketika pemuka agama memilih diam demi menjaga reputasi organisasi atau karena menganggap isu ini tabu, pada saat itulah sebuah generasi hancur secara perlahan. Agama seharusnya menjadi perisai bagi yang paling lemah, bukan tempat berlindung bagi para pemangsa.
Oleh sebab itu, kami mendesak para pemimpin agama untuk segera memutus budaya diam dengan berbicara secara eksplisit tentang bahaya grooming dalam setiap pengajaran.
Kedepankan transparansi dan akuntabilitas; jangan menutupi kasus internal demi "nama baik" yang semu.
Berikan edukasi kepada jemaat bahwa ancaman sering kali datang dari orang yang membangun kepercayaan secara manipulatif, bukan hanya orang asing. Kejahatan ini adalah dosa sosial yang sangat besar.
Mari jadikan tempat ibadah di Sumatera sebagai zona nol toleransi bagi predator anak. Jangan tunggu sampai korban berikutnya adalah anak atau cucu sendiri.
Opa Jappy | Penggagas Kampanye Anti Predator Child Grooming

Provinsi-provinsi sepanjang Pulau Perca menghadapi ancaman serius mengenai manipulasi seksual terhadap anak-anak. Pelaku kejahatan tersebut menggunakan kedok kasih sayang demi menjerat korban melalui interaksi intensif.
Gejala memprihatinkan muncul saat pemuka keyakinan beserta warga lokal memilih bungkam seraya mengabaikan tanda-tanda bahaya sekitar mereka. Ketakutan akan stigma sosial sering kali menenggelamkan suara jeritan batin para korban yang membutuhkan perlindungan segera. Kondisi darurat ini terpeta jelas dalam persebaran kasus di seluruh penjuru wilayah sebagai berikut,
Predator memanfaatkan celah digital guna mendekati target secara daring sebelum melakukan pertemuan fisik secara rahasia. Sayangnya, banyak pihak menganggap remeh pendekatan awal yang tampak wajar padahal merupakan tahap awal penghancuran masa depan generasi muda.
Lembaga keagamaan seharusnya menjadi benteng pertahanan utama, namun kerap kali gagal bertindak tegas karena alasan menjaga nama baik organisasi. Budaya tutup mulut justru memberi ruang napas bagi eksploitasi terus berkembang biak tanpa hambatan berarti.
Penegakan hukum wajib berjalan beriringan dengan edukasi masif agar setiap individu berani melaporkan segala bentuk kecurigaan tanpa rasa ragu.
Penyelamatan nyawa anak bangsa menuntut komitmen penuh dari seluruh lapisan masyarakat demi membasmi jejak hitam para pemangsa manusia.
Opa Jappy | Penggagas Kampanye Anti Predator Child Grooming
