Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Mari Bersatu Dalam Satu Garis Pertahanan Melawan Predator Child Grooming
Demi masa depan anak dan peradaban
Ia datang dengan senyum manis penuh persahabatan.
Mengetuk pintu hati yang lugu.
"Kemarilah, Nak," berbisik selembut sutra,
Menenun jaring benang-benang pujian.
Ia bukan teman, ia bukan saudara,
Ia adalah serigala berbulu Sang Baik.
Ia mencuri waktu melalui layar dan kata,
Ia meruntuhkan tembok perlindungan.
Wahai para penjaga, jangan lengah,
Sebab predator tak berwajah amarah.
Ia hadir sebagai pahlawan palsu.
Hanya untuk melahap Si Kepolosan Hati
Angkat suaramu, jadi perisai baja,
Katakan,
"Jangan sentuh mereka, jangan rampas dunianya,
Tinggalkan anak-anak kami.
Karena anak adalah mahkota dan kehormatan.
Jangan menghancurkan mahkota dan kehormatan itu.
.
Mari Bersatu Dalam Satu Garis Pertahanan Melawan Predator Child Grooming
Demi masa depan anak dan peradaban
(Opa Jappy)
Ketika hampir semua orang terbalut kemajuan teknologi yang mengaburkan batas ruang dan waktu; mereka berpikir sudah mampu mengawasi gerak lincah anak-anak di rumah. Mereka sudah puas dengan menatap CCTV dari kejauhan; dan melihat tawa riang di seberang sana. Padahal, predator child grooming telah merayap masuk ke ruang-ruang privat anak-anak, dinilai sebagai sesuatu yang menemani anak dalam kesepiannya.
Itulah musuh sesungguhnya; ia tidak datang dengan wajah menyeramkan, melainkan bersembunyi di balik topeng kebaikan. Ia hadir di ruang anak sebagai sosok yang datang dengan "senyum manis" dan "bisikan selembut sutra." (Hal tersebut, selaras dengan realitas sosiologis, Child Grooming adalah proses manipulasi sistematis. Pelaku tidak menggunakan ancaman fisik di awal, melainkan kekerasan psikis berupa manipulasi emosi, pujian, dan pemberian hadiah). Dengan cara tersebut, begitu mudahnya mereka meruntuhkan tembok perlindungan anak dari dalam; itu memenangkan kepercayaan korban (dan kepercayaan orang tua).
Bahkan! Seandainya semua pintu dan jendela ruang anak terkunci rapat; predator bisa masuk melalui celah lain yaitu layar; "ia mencuri melalui layar digital di pelukan anak-anak." Mereka tidak perlu hadir secara fisik untuk menghancurkan mental anak. Cukup dengan kata-kata membuai, mereka "menenun jaring" yang menjerat masa depan generasi penerus.
Lalu!? Melindungi anak-anak dari predator bukan hanya tugas orang tua atau guru, melainkan kewajiban kolektif peradaban. Anak sebagai "mahkota dan kehormatan," simbol martabat tertinggi setiap sub-suku, suku, dan bangsa. Jika membiarkan mahkota dan harta itu hancur, maka runtuhlah masa depan, bukan melulu anak, tapi semua.
Anak-anak adalah masa depan peradaban. Menjaga mereka dari Predator Child Grooming adalah perjuangan suci untuk mempertahankan kemanusiaan. Mari rapatkan barisan, tajamkan kewaspadaan, dan pastikan tidak ada satu pun predator yang mampu menyentuh "mahkota" bangsa.
Opa Jappy | Penggagas Kampanye Anti Predator Child Grooming
