Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

Kami berharap engkau melihat wajah malaikat.
Saat mereka mendengar suaramu yang merdu bernyanyi.
Pergilah ke surga dengan bersorak.
Karena Kasih Bapa dan Putra.
Kami tahu hidupmu di dunia ini penuh kemelut.
Hanya dirimu yang merasakan kepedihan itu.
Kau tak takut menghadapi iblis,
Kau sudah terbiasa dengan duka.
Pergilah beristirahat di Ruang Ketenangan.
Tugasmu di dunia telah usai.
Pergilah ke surga dengan bersorak.
Karena Kasih Bapa dan Putra.
Kami sangat kehilangan ketika engkau pergi.
Kami berkumpul di sini dengan airmata kesedihan.
Kami berharap engkau melihat wajah malaikat.
Saat mereka mendengar suaramu yang merdu bernyanyi.
Tugasmu di dunia telah usai.
Pergilah beristirahat di Ruang Ketenangan
Pergilah ke surga dengan bersorak
Karena Kasih Bapa dan Putra.
Pergilah ke Surga dengan bersorak
Karena Kasih Bapa dan Putra.
Pergilah beristirahat di Ruang Ketenangan.
Tugasmu di dunia telah usai.
Pergilah ke surga dengan bersorak
Karena Kasih Bapa dan Putra.
Pergilah ke Surga dengan bersorak
Karena Kasih Bapa dan Putra
Pergilah ....
Pergilah....
Pergilah sebagai pemenang
Opa Jappy | Pro Life Indonesia

"Kami tahu hidupmu di dunia ini penuh kemelut" dan "Kau sudah terbiasa dengan duka" menunjukkan bahwa sosok 'yang pergi' telah melewati masa-masa sulit, penderitaan, atau sakit penyakit selama hidupnya di dunia. "Ruang Ketenangan" digunakan sebagai metafora untuk surga atau tempat peristirahatan terakhir, di situ tidak ada lagi air mata maupun kesedihan. Meskipun ada kesedihan dari mereka yang ditinggalkan, "Kami berkumpul di sini dengan air mata kesedihan," namun pergi sebagai "Pemenang" yang telah menyelesaikan tugasnya di dunia dengan baik. Ada harapan agar mendiang disambut oleh para malaikat dan bersorak karena kasih Bapa dan Putra. Ada baiknya atau sangat menyentuh jika digunakan sebagai latar musik atau ungkapan simpati pada momen-momen duka, Ibadah penghiburan atau pemakaman, memorial untuk mengenang jasa dan kehidupan seseorang.
Menemukan Kemenangan di Ruang Ketenangan
Dunia sering dirasakan sebagai medan tempur yang bising; itulah fakta pada diri banyak orang. Semuanya dikelilingi oleh "kemelut" dan "kepedihan," ada yang yang hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri dalam kesunyian. Melalui "Istirahat di Ruang Ketenangan," Anda dan Saya diajak melihat perspektif yang melampaui sakit, penderitaan, dan kelelahan bahwa titik tertinggi dari perjalanan hidup serta kehidupan manusia bukan kekayaan atau jabatan, melainkan kemampuan sampai pada "Ruang Ketenangan" sebagai seorang pemenang.
Ketenangan Bukanlah Ketiadaan Badai. "Kau tak takut menghadapi iblis, kau sudah terbiasa dengan duka" mengandung makna fundamental, "ketenangan hati tidak datang dari hidup yang mulus tanpa hambatan; sebaliknya, ketenangan adalah otot spiritual yang terbentuk karena telah berulang kali dihantam badai namun memilih untuk tetap berdiri." Seseorang yang memiliki ketenangan hati adalah mereka yang telah "berteman" dengan duka. Ketika berhenti memusuhi rasa sakit dan mulai menerimanya sebagai bagian dari tugas dunia, saat itulah rasa takut kehilangan kuasanya. Ketenangan sejati muncul saat menyadari bahwa segala kemelut di dunia memiliki batas waktu, sementara kasih yang bersifat ilahi adalah abadi.
Melepaskan untuk Menang. Salah satu bagian paling menyentuh adalah ajakan untuk "Pergilah sebagai pemenang." Dalam logika dunia, kemenangan berarti mendapatkan sesuatu. Namun dalam logika ketenangan hati, kemenangan berarti kemampuan untuk melepaskan. Anda dan saya, mungkin saja, pernah menderita bukan karena beban yang dipanggul, melainkan karena menolak meletakkannya saat tugas telah usai. Menang berarti berani berkata pada diri sendiri bahwa "tugas di dunia telah selesai" dengan sebaik-baiknya. Ketenangan hati hadir ketika berhenti menggenggam apa yang bukan milik (kita) mempercayakan akhir perjalanan kepada Kasih yang lebih besar.
Harapan sebagai Kompas. "Suara merdu" dan "Wajah malaikat" memberikan motivasi bahwa setiap penderitaan yang dijalani dengan tabah, berujung pada keindahan. Ini adalah pengingat untuk yang masih hidup bahwa, "setiap tindakan baik, kesabaran dalam duka, dan ketulusan di tengah kemelut sedang membentuk "suara merdu" yang akan dikenang. Ketenangan hati adalah warisan terbaik yang bisa ditinggalkan. Saat orang lain melihat Anda dan Saya mampu tenang di tengah badai, mereka tidak hanya melihat kekuatan, dan juga memandang harapan serta pengharapan.
Selanjutnya, mari maknai hidup bukan sebagai beban yang melelahkan, melainkan tugas mulia yang pada saatnya nanti akan berlabuh di "Ruang Ketenangan". Jangan takut pada duka, karena ia adalah guru yang menempa hidup dan kehidupanku sehingga menjadi pemenang sejati. Carilah ketenangan itu di dalam Kasih, dan biarkan hatimu bernyanyi meski di tengah kemelut, karena setiap langkah sedang menuju pulang ke tempat air mata tidak lagi berkuasa.
Opa Jappy | Pro Life Indonesia