Pegiat Literasi Publik, Pro Life Indonesia, Digital Journalism, Pengelola Jakarta News dan Ruang Biblika Kompasiana

"Kasih Sayang Telah Berakhir" bukan sekadar tentang putus cinta. Tapi, refleksi tentang kerapuhan janji manusia dan bagaimana waktu sebagai penyembuh berjalan sangat lambat pada mereka yang sedang hancur.
Suatu realitas pahit ketika kasih sayang yang dulunya dijaga dengan sepenuh hati, kini hanya menyisakan narasi kosong dan luka tak kasatmata. Foto-foto yang dulunya merekam tawa dan kebahagiaan kini bermutasi menjadi "racun diam tapi mematikan harapan." Mencerminkan objek-objek nostalgia, kini menjadi pemicu rasa sakit mendalam saat realitas tidak lagi sejalan dengan memori tersebut.
Fakta tak tertolak bahwa ketidakberdayaan manusia ketika berhadapan di hadapan kehilangan. Meski mencoba "memaksa diri mengikhlaskan," nama, ingatan, dan memori manis tentang dia (yang telah pergi dan lenyap) masih muncul pada setiap doa dan Kesunyian. Menunjukkan dualitas antara logika melepaskan dan hati masih terikat. Kepedihan dan kesedihan itu mencapai puncaknya pada pengakuan bahwa janji-janji yang dulu dipegang teguh, kini tidak lagi memiliki dasar, menyisakan hati "tak lagi utuh."
Pada akhirnya, hanya kepasrahan, menyerahkan segalanya pada waktu untuk perlahan-lahan menghapus luka dari dalam jiwa.
Opa Jappy| Pro Life Indonesia
